Tampilkan postingan dengan label RUDAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUDAL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Agustus 2013

RUDAL RBS-70

RBS70.jpg

Jihad-Defence-Indonesia - RBS-70 adalah sebuah sistem MANPADS buatan swedia yang dirancang untuk anti-pesawat tempur dan beroperasi di semua cuaca dengan dukungan sedikit atau tanpa dukungan sama seklai dari pasukan lain. Sistem ini menggunakan roket RB 70
Angkatan Darat Australia RBS-70 Dalam Pelayanan
RBS 70 adalah pendek jarak Pertahanan Udara (SHORAD) laser yang dipandu sistem rudal.Operator menerima petunjuk tentang posisi target dari SLT lokal (combat-terminal kontrol) yang adalah tentang ukuran laptop. SLT pada gilirannya menerima informasi melalui radio dikodekan disiarkan dibuat oleh salah satu stasiun radar ( PS 90, PS 70 ) atau beberapa sumber informasi lain pengumpulan. Ketika target telah diakuisisi oleh operator yang mematikan keamanan, yang menyalakan laser utama dan mengirimkan sebuah IFF sinyal dan jika merek yang positif menembak mustahil. Jika operator yakin bahwa ia memiliki track yang baik dia kebakaran. Rudal itu kemudian terbang dalam sinar laser dari pandangan, menyesuaikan posisinya terus-menerus untuk tetap berada di dalam balok. Hal ini menempatkan banyak tekanan pada operator yang perlu memiliki tujuan yang sangat stabil. Jika rudal dipandu ke dalam 30 meter dari target membunuh adalah 95% terjamin.
RBS-70 DI PELUNCUR LAND JIP LAND ROVER
Knalpot dibuang di bagian tengah rudal dan sinar laser sistem naik dipasang di bagian ekor, di mana hal ini sangat sulit untuk macet.
RBS 70 telah terus diperbarui dan ditingkatkan, versi pertama (Mrk 0) memiliki jangkauan pendek dan kemampuan membunuh terbatas tapi ini jauh lebih baik dalam versi. Mk 1 dan Mk 2 diikuti segera dan merupakan standar RBS 70 dengan berbagai 5,000-6,000 m dan langit-langit dari 3.000 m. Saat ini, RBS 70 beroperasi di 18 negara pelanggan, di semua benua dan di Arktik, padang pasir, dan lingkungan tropis.
Pada tahun 2003 "bolide" upgrade sistem diperkenalkan kepada RBS 70.
 Rudal bolide adalah RBS 70 Mk 2 upgrade yang lebih cepat (Mach 2 vs Mach 1.6), dengan kisaran hingga 8 km (5.0 mil) dan bisa mencapai ketinggian 5 km. Bolide ini juga memiliki hulu ledak baru, yang merupakan muatan berbentuk dengan jaket pra-terfragmentasi, yang beradaptasi fuze kedekatan memberikan efektivitas penuh terhadap berbagai sasaran yang lebih luas, dan elektronik reprogrammable baru memberi kemungkinan untuk melakukan serangan rudal jelajah dan UAV . Pengiriman telah dimulai pada tahun 2005.
RBS-70 DI PELUNCUR ASRAD-R
 
RBS-70 di Upgarde
Pada tahun 2011, Saab Bofors Dynamics (penerus perusahaan Bofors Pertahanan) mengumumkan peluncuran Generasi baru 70 RBS Baru (RBS 70 NG). Versi upgrade termasuk sebuah sistem pengamatan ditingkatkan mampu night vision dan pelatihan peningkatan dan setelah aksi-fitur ulasan.
Spesifikasi : 
Berat87 kg (+ Berdiri Penglihatan Missile +)
Panjangnya1.32 m
Diameter106 mm

Bagian depan senapan yg berisi bahan peledak1,1 kg Dikombinasikan dengan 3.000 bola tungsten dan muatan berbentuk
Detonasi 
mekanisme
Adaptive kedekatan murangfungsi dengan 3 mode dipilih (Off, Normal, target Kecil)

MesinBooster dan penopang dengan solid tanpa asap propelan
Lebar sayap32 cm
Operasional 
kisaran
250 m-8 km
Penerbangan ketinggian5.000 m
MempercepatMach 1.6 (Mark 0/1) 
Mach 2 (5 km dalam 12 detik) (Mark 2/BOLIDE)
Bimbingan 
sistem
Laser beam naik rudal
Luncurkan 
Platform
tripod, senjata platform ( ASRAD-R ) dan kapal perang   

RUDAL SIDEWINDER

F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder
F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder (foto : TB Rachman)
Meski secara teknologi TNI AU tak ketinggalan dalam update pengadaan pesawat tempur, lain halnya dengan persenjataan yang melengkapi pesawat tempur. Akibat anggaran pembelian yang serba ngepas, TNI AU hingga kini hanya dibekali rudal udara ke udara secara terbatas.
Rudal andalan TNI AU tak lain adalah sidewinder. Rudal pemburu panas ini mulai hadir sejak awal tahun 80-an. Dari beberapa tipe pesawat tempur yang dimiliki, diketahui hanya tiga jenis pesawat tempur yang mampu menggotong sidewinder, yakni F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200.
AIM-9 P4 Sidewinder
AIM-9 P4 Sidewinder
Ada dua tipe sidewinder milik TNI AU, yakni AIM-9 P2 dan AIM-9 P4 sidewinder. Paket rudal AIM-9 P2 dibeli bersamaan dengan pengadaan 16 pesawat tempur F-5 E/F Tiger yang pertama datang pada 21 April 1980.
Sedangkan tipe AIM-9 P4 dibeli bersamaan dengan pembelian 12 pesawat tempur F-16 A/B Fighting Falcon pada tahun 1989. Rudal sidewinder untuk pertama kal ditembakkan pada tahun 1989 di selatan Samudra Hindia. Rudal diluncurkan dari dua F-5 yang lepas landas dari lanud Ngurah Rai, Bali.
Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder
Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder
Apa perbedaan antara AIM-9 P2 dan AIM 9 P4? Letak perbedaannya cukup mencolok, dengan AIM 9 P2 mengharuskan pilot menempatkan musuh di depannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Sebab rudal ini hanya akan menuju panas yang dikeluarkan dari exhaust.
Sebaliknya rudal AIM 9 P4, meski sama-sama mengarah ke panas tetapi rudal ini akan membidik panas yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu akibat gesekan bodi pesawat dengan udara. Dengan demikian AIM 9 P4 bisa ditembakkan meskipun pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan. Dari perbedaan teknis ini mengubah cara dan konsep pertempuran udara (dog fight).
Formasi Tempur F-5 E
Formasi Tempur F-5 E
Rudal buatan Raytheon Company, AS ini memiliki banya varian, tipe terbarunya adalah AIM 9X yang mulai digunakan militer AS tahun 2003 lalu. Untuk tipe AIM 9 P4 milik TNI AU memiliki kecepatan luncur 2.5 Mach dalam tempo waktu 2,2 detik. Jangkauan rudal efektif adalah 17,7 Km dengan lama misi 60 detik. Bobot sidewinder sendiri sekitar 78 Kg

Rabu, 05 Juni 2013

RUDAL QW-3 INDOONESIA

Rihanna Shows Off Her Famous RearFrom Hollyscoop
Setelah cukup lama tak mengoperasikan rudal, akhirnya saat ini Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU kembali dipercaya mengoperasikan rudal anti serangan udara alias SAM (surface to air missile). Tapi beda dari tahun 60-an, kala itu TNI AU punya arsenal monster SAM SA-2 , yakni rudal berjangkauan jarak sedang yang punya kecepatan 3,5 Mach dan jadi momok menakutkan bagi pesawat tempur NATO.
Nah, lima dekade telah berlalu, saat ini Paskhas TNI AU sayangnya tak lagi mengoperasikan rudal hanud (pertahanan udara) jarak sedang. Konon sesuai kebutuhan strategis, Paskhas TNI AU kini justru mengusung alutsista berupa rudal SAM jarak pendek, rudal yang dimaksud tak lain adalah QW (QianWei)-3 buatan CPMIEC (China National Machinery Import and Export), RRC. QW-3 terbilang alutsista anyar di lingkungan TNI, rudal ringan ini kabarnya baru masuk ke arsenal alutsista TNI AU pada kuartal kedua tahun 2010 lalu. Salah satu kesatuan Paskhas yang pertama mengoperasikan QW-3 yakni Skadron Paskhas 463 di Madiun, Jawa Timur.
Ditilik dari spesifikasinya, QW-3 merupakan jenis rudal panggul hanud permukaan ke udara untuk menghadapi sasaran pesawat tempur berkecepatan tinggi/rendah dengan ketinggian rendah maupun sangat rendah. Sebagai rudal hanud berjangkauan jarak pendek, jarak tembak maksimumnya hanya sampai 8 Km dengan ketinggian maksimum 5 Km. Dilihat dari profilnya jelas QW-3 amat ideal menghantam pesawat tempur atau helikopter lawan yang terbang di ketinggian rendah.
Tak seperti rudal panggul (portable) yang ada saat ini, QW-3 yang pertama kali diperkenalkan pada Zhuhai Air Show di Cina tahun 2002, tak menggunakan sistem pemandu passive infra red. Rudal ini justru menggunakan pemandu semi aktif laser yang ditempatkan pada bagian moncongnya. Dengan pemandu laser, rudal ini relatif tahan terhadap flare (pengecoh panas) yang diluncurkan pesawat sasaran. Teknologi lain yang melengkapi QW-3 adalah anti jamming. Untuk mendukung manuver tinggi saat menguber dan menghancurkan, rudal ini dilengkapi teknologi mikro komputer.
Tampilan utuh QW-3
Tak mudah bagi pesawat untuk lolos bila telah dikunci oleh rudal ini, kecepatan luncur rudal ini terbilang fantastis untuk kelas rudal panggul, yakni 750 meter per detik, atau sekitar 2,7 Mach. Hulu ledaknya mengadopsi jenis high-explosive fragmentation dengan radius mematikan 3 meter.
Keunggulan lain dari rudal ini dapat membuat analisa logis dari energi target dan karakteristik gerakan dari target serta mengenali target secara efektif tanpa hambatan. Adapaun sistem perlengkapan rudal QW 3 dan BCU (Battery Coolant Unit) tersimpan dalam wadah tertutup rapat (kedap udara, anti kelembaban tahan lama), ukurannya kecil dan portable, sehingga dapat diaplikasikan pada kendaraan tempur (tank, mobil tempur dan kendaraan lainnya).
Platform peluncur QW-3
Sebagai rudal panggul, pengoperasian QW-3 terbilang sederhana dan punya mobilitas sangat tinggi. QW-3 diawaki oleh seorang juru tembak dengan posisi menembak berdiri. Selain bisa dioperasikan lewat panggul oleh seorang prajurit, untuk menjaga ke stabilan rudal seberat 23 Kg ini juga dipasangkan pada dudukan tripod pada kendaraan jip.
Saat digunakan oleh Paskhas, QW-3 tercatat sudah beberapa kali diujicoba, seperi di Garut, Jawa Barat pada 9 Juli 2010. Rudal yang diujicoba sebanyak empat buah. Sasaran tembaknya adalah beberapa pesawat yang menggunakan remote control, “tujuan kegiatan ini untuk mengetahui ketepatan maksimal sasaran tembak. Hasil uji coba cukup berhasil karena tepat mengenai sasaran,” ujar Kepala Penerangan Pasukan Khas TNI AU Lanud Sulaeman, Letnan Kolonel Sus Ahmad Nairiza, dikutip dari Tempointeraktif.com (9/7/2010).
QW-3 milik Paskhas dipasang dalam platform tripod di kendaraan jip
Selain di Garut, sebelumnya QW-3 juga diujicoba di pantai selatan kabupaten Pacitan pada kamis (10/6/2010) disaksikan oleh para pejabat TNI AU, Dephan, dan Mabes TNI. Kegiatan uji tembak tersebut dapat berjalan dengan lancar dan cukup berhasil ditandai dengan tembakan Rudal mengenai sasaran tembak berupa pesawat target drone. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi QW-3
Panjang : 2,1 meter
Berat : 23 Kg
Jangkauan : 0,8 – 8 Km
Ketinggian max : 5 Km
Kecepatan luncur : 750 meter per detik/2700 Km per jam
Hulu ledak : high-explosive fragmentation
Mesin : Roket berbahan bakar padat
Pemandu : semi aktif laser

RUDAL STRELA INDONESIA

strela.jpg
Jihad-Defence-Indonesia - Strela adalah jenis rudal panggul (Manpad) yang amat populer, dan banyak digunakan pada berbagai konflik di seluruh dunia. Hadirnya Strela pada awal 1990, menjadikan senjata ini sebagai Rudal Anti pesawat pertama dimiliki TNI, Baru kemudian TNI kedatangan rudal-rudal pencegat objek di udara yang lebih modern, seperti Mistral , QW-3 , Exocet dan Yakhont.
Strela yang dioperasikan TNI AL hingga kini masih memperkuat jajaran armada korvet kelas Parchim. Karena sudah berusia tua dan bekas pakai pula, rudal ini perlu dimodifikasi lebih lanjut agar sesuai kebutuhan dalam gelar operasi. Modifikasi pun telah dilakukan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL, hasilnya walau rudal ini usianya sudah 34 tahun masih tetap mantab dalam uji coba. Dari hasil modifikasi, Strela kini dinamai rudal AL1.
strela-di-atas-kri.jpg
Pengoprasian peluncur strela di atas kapal perang
Streal bekerja dengan sistem pemandu pasif infra merah, rudal ini bisa mendeteksi sasaran dengan tepat di atas temperatur 200-400 derajat Celsius suhu yang dikeluarkan oleh exhaust nozzle pesawat terbang atau helikopter sasaran. Sistem peluncur rudal terdiri dari tabung peluncuran rudal dan silinder baterai termal. Dalam teorinya satu tabung peluncur dapat diisi ulang hingga lima kali pengisian.
Karena sifatnya manpad, rudal ini sepenuhnya dikendalikan oleh awak secara manual. Saat rudal meluncur dari tabung, digunakan sistem pembakaran sesaat (short burnt booster). Pola penembakan ini harus diwaspadai oleh awak, sebab semburan roket dapat mengenai penembak.
Kelemahan lain adalah Strela harus benar-benar diarahkan ke saluran buang (exhaust nozzle) pesawat atau helikopter sasaran. Saat rudal pertama kali meluncur dari tabung, kecepatan yang didapat yakni 32 meter per detik dan rudal berputar pada porosnya sekitar 20 putaran per detik. Pada puncaknya, Strela akan memburu target dengan kecepatan 430 meter per detik. Setelah rudal keluar dari tabung, otomatis badan rudal akan mengembangkan sirip untuk terbang.
Spesifikasi
  • Perancang : KBM Kolomna
  • Berat rudal : 9,8 Kg
  • Berat hulu ledak 1,15 kg
  • Panjang : 1,44 meter
  • Diameter : 72 mm
  • Bentang maksimum : 4200 mm
  • Lebar sayap : 70 cm
  • Jangkauan max : 5.500 meter
  • Ketinggian max : 4.500 meter
  • Kecepatan max : 430 meter per detik (sekitar 1,5 Mach).

RUDAL MAVERICK INDONESIA

agm-maverick.jpg
AGM 65 Maverick adalah sebuah peluru kendali udara ke darat ( Air to Ground ) yang dirancang untuk keperluan dukungan udara. Rudal ini diproduksi oleh Hughes Aircraft Corporation, Raytheon Corporation, Amerika. Dan mulai dipakai sejak tahun 1972. Rudal ini efektif dipakai untuk banyak target seperti kendaraan lapis baja, pertahanan udara ( bunker ), kapal dan fasilitas darat lainnya. Rudal Maverick memiliki bentuk silindris dan memiliki ujung yang terbuat dari gelas untuk pemandu elektro-optik atau seng sulfida untuk pemandu inframerah, sayapnya berbentuk delta serta hulu ledak yang terletak di bagian tengah. Sistem penembakan rudal ini "Fire and Forget" yang artinya setelah rudal diluncurkan, sistim penginderaan rudal akan bekerja sendiri untuk menghajar target yang telah ditentukan sebelumnya.
AGM 65 Maverick memiliki dua macam hulu ledak yaitu yang memiliki pemicu kontak di ujung dan yang memiliki pemicu dengan interval yang menembus target dengan energi kinetik sebelum meledak. Model terakhir lebih efektif untuk target yang keras dan besar. Sistem mesin untuk kedua model memakai motor roket berbahan bakar padat.
Beberapa varian dari rudal AGM 65 Maverick diantaranya
  • AGM-65A
    Memiliki pemandu elektro-optik . Setelah kubah pelindung dicabut dan sirkuit videonya diaktifkan, tampilan yang dilihat oleh sistem pemandu akan muncul di layar kokpit. Pilot kemudian memilih target, mengunci target kemudian rudal ditembakkan.
  • AGM-65B
    Mirip dengan model A dengan pengembangan pada sistem televisinya yang memungkinkan pilot untuk memperbesar layar (zoom) untuk mengidentifikasi target yang kecil.
  • AGM-65D
    Memiliki pemandu inframerah , yang memungkinkan penggunaan pada malam hari atau cuaca buruk, pembidik inframerahnya juga dapat melacak panas yang dihasilkan oleh target.
  • AGM-65E
    Memiliki pemandu laser yang digunakan korps marinir. Rudal akan melacak laser yang dipantulkan. Jika pantulan laser tidak lagi dideteksi, rudal akan terbang melewati target dan tidak akan meledak.
  • AGM-65F
    Memiliki 136 kg hulu ledak yang digunakan oleh angkatan laut serta pemandu elektro-optik yang dioptimalkan untuk target kapal.
  • AGM-65G
    Mirip dengan model D, tetapi memiliki hulu ledak berat dibandingkan dengan model A, B dan D yang shaped-charge.
agm-65-maverick.jpg
Spesifikasi teknis Rudal AGM 65 Maverick
  • Mesin : Thiokol TX-481 dengan motor roket berbahan bakar padat berpendorong ganda
  • Berat :
    207,9 kg (AGM 65A/B)
    218,25 kg (AGM 65D)
    301,5 kg (AGM 65G)
    286 kg (AGM 65E)
    301,5 kg (AGM 65F)
  • Panjang : 2,55 meter
  • Diameter : 30,48 cm
  • Bentang sayap : 71,12 cm
  • Kecepatan : 1.150 km/jam
  • Jangkauan :
    27 km ( ketinggian tinggi )
    13 km ( ketinggian rendah )
  • Hulu ledak :
    56,25 kg (AGM 65A/B)
    135 kg (AGM 65G)
    56,25 kg (AGM 65E)
    135 kg (AGM 65F)
  • Sistem pemandu :elektro-optik, inframerah dan laser
  • Platform : Pesawat

RUDAL GROM INDONESIA

Rudal Grom Arhanud TNI AD dalam platform peluncur Poprad
Setelah rudal Rapier dipensiunkan oleh TNI AD, maka kemudian Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD memilih rudal Grom, yakni rudal jenis SHORAD (short range air defence), alias rudal pertahanan udara jarak pendek/SAM (surface to air missile). Sebagai rudal SAM ringan, Grom pertama kali diproduksi pada tahun 1995, dirancang oleh Military Institute of Armament Technology, dan diprodkusi oleh Mesko, Skarżysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia.
Dengan berakhirnya masa tugas Rapier pada Juni 2007, secara bertahap Grom mulai memperkuat arsenal arhanud TNI AD. Unit Arhanud TNI AD pertama yang dilengkapi Grom adalah Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya, dan kini detasemen rudal Arhanud lain dilingkungan TNI AD sudah berbekal Grom, yakni Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda yang mengamankan area kilang Arun, Detasemen Rudal 002 Kodam Tanjungpura yang mengamankan obyek vital di Bontang, dan Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan yang mengamankan obyek vital di Dumai.
Kobra Modular air defence system
Paket pengadaan rudal Grom mencakup Kobra modular air defence system dari yang terdiri dari battery command vehicle, sistem peluncur rudal Poprad, 3D multi-beam search radar, dan meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom.
Grom
Rudal Grom berasal dari platform rudal panggul yang bisa dioperasikan secara perorangan. Karena berasal dari Polandia yang merupakan eks sekutu Rusia, basis desain Grom juga diambil dari rudal SAM SA-7 yang sudah lebih dulu kondang. Pertama kali Grom digunakan oleh Angkatan Darat Polandia pada tahun 1995. Dan pada tahun 2007, Polandia menjual beberapa Grom ke beberapa negara, termasuk ke Georgia, negara pecahan Uni Soviet. Georgia membeli 30 peluncur dan lebih dari 100 rudal.
Tampilan rudal Grom, tanpa peluncur
Rudal Grom dalam versi Manpad (panggul)
Pembelian Grom oleh Georgia-lah yang kemudian mengangkat pamor rudal ini, pasalnya Georgia pada tahun 2008 sempat terlibat konflik dengan Rusia dalam perang di wilayah Ossetia Selatan. Dilaporkan selama perang tersebut, 20 helikopter Rusia tertembak oleh Grom. Di medan konflik yang lain, tepatnya pada akhir 2008, pihak Rusia telah menemukan paket rudal Grom yang digunakan oleh pejuang Checknya. Itulah perjalanan tempur rudal Grom yang beberapa kali telah ‘mentas’ di beberapa medan perang di wilayah dingin. Apakah ini yang menjadi dasar pembelian Grom oleh Indonesia?
Secara spesifikasi, Grom mempunyai berat 10,5 Kg, serta berat berikut peluncur mencapai 16,5 Kg. Bobot hulu ledak Grom yakni 1,82 Kg, sedangkan diameter Grom hanya 72 mm dan panjang rudal 1.566 mm. Bagaimana dengan soal jangkauan? Jangkauan tembak Grom horizontal yakni 5.500 meter dan jangkauan tembak vertikal antara 3.000 sampai 4.000 meter, dengan minimal jangakauan tembak 10 meter. Untuk kecepatan, Grom bisa menguber target dengan kecepatan 650 meter per detik. Pihak pabrik menyebutkan, Grom bisa beroperasi pada suhu -35 sampai 50 derajat celcius, jadi secara teori cukup layak digunakan di Indonesia.
Grom berpemandu infrared, sistem penembakan yakni mengusung konsep fire and forget, atau setelah ditembakkan secara otomatis rudal akan mengejar sumber panas sasaran. Secara umum, antara Rapier dan Grom punya kodrat yang sama dalam menguber target, yakni sama-sama mengincar target yang terbang rendah dengan manuver dan kecepatan tinggi.

Peluncur Poprad

Dalam gelar operasinya, Grom milik Arhanud TNI AD dipasang dalam platform peluncur Poprad dan meriam 23-mm/ZUR komposit. Untuk Poprad yang dipakai oleh TNI AD, menggunakan platform jip Defender dari Land Rover. Dalam satu jip tersedia 4 peluncur Grom yang dapat diputar 360 derajat. Dengan adopsi peluncur Grom pada kendaraan berkemampuan off road, diharapkan gelar operasi rudal ini dapat lebih mobile dan fleksibel. Umumnya dalam satu jip peluncur membawa 8 rudal, 4 yang siap tembak, dan sisanya 4 rudal sebagai cadangan.
Peluncur Poprad, dilengkapi beragam sensor canggih
Poprad bisa diadopsi ke berbagai plaform kendaraan tempur
Meski dapat ditembakkan secara terpadu dari Battery Command Vehicle, tapi komponen Poprad dapat beroperasi secara mandiri, dengan dua kru (komandan/operator dan supir), Poprad dapat menguntit target lewat atomatic target tracking (videotracker) dalam kondisi siang dan malam hari. Agar akurat membidik target, Poprad juga dilengkapi teknologi FLIR (forward looking infra red) dan electro optical sensor yang berkemampuan thermal camera plus laser range finder. Untuk menghindari friendly fire, atau salah menembak target, Poprad juga sudah dibekali IFF (identification friend or foe) interrogator.

Meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom
Untuk unsur yang satu ini, keberadaan rudal Grom ditendemkan pada meriam 23-mm/ZUR. Dalam posisi siap tembak, 2 peluncur Grom ditempatkan pada sisi kanan juru tembak, tentu saja proses isi ulang rudal bakal lebih cepat di sistem meriam ini. Secara umum, meriam 23 mm ini memiliki jangkauan tembak maksimum vertikal 2.000 meter, dan jangkauan tembak horizontal 3.000 meter. Meriam ini diawaki oleh 6 awak, 2 bintara dan 4 tamtama. Dengan konsep komposit/hybrid, amumisi meriam dan rudal dapat ditembakkan ke target secara simultan, hingga mencapai daya hancur yang berlipat.



Battery Command Vehicle
Dalam Kobra modular air defence system, terdapat elemen Battery Command Vehicle dan Mobile Multibeam Search Radar, kedua ditempatkan terpisah dalam platform jip Defender Land Rover. Battery Command Vehicle merupakan kendaraan pos pengendali baterai, perangkat ini mampu mengendalikan hingga 6 pucuk meriam secara serentak. Command Vehicle dipandu dengan alat bidik optronik yang memiliki interface dengan rudal/meriam. Kemampuan deteksi Battery Command mencapai 20 Km, dilengkapi dengan laser range finder, TV camera, dan optical direcetor. Sebagai ‘jantung’ sistem pertahanan modular, Battery Command dapat mengusung 3 sumber energi, yakni dari generator, listrik PLN, dan baterai.
Awak pada Battery Command Vehicle

Mobile Multibeam Search Radar (MMSR)
Bila Battery Command Vehicle berperan sebagai elemen pengendali, Multibeam Search Radar berperan sebagai radar penjejak dan pemantau pergerakan target. Perangkat ini mempunyai jangakauan horizontal hingga 40 – 50 Km, sedangkan jangakau vertikal mulai dari 50 meter – 10.000 meter. Mobile Multibeam Search Radar dapat menampilkan obyek 3 dimensi, perangkat ini diawaki oleh 2 orang. Karena menggunakan platform jip Defender, waktu gelar radar ini bisa dilakukan dengan singkat, waktu siap tempur hanya butuh 4 menit.
Mobile Multibeam Search Radar
Uji Coba Grom di Indonesia
Untuk mengetahui seberapa besar kehandalan alutsista yang dimiliki, TNI AD beberapa kali telah menggelar Grom dalam serangkaian uji coba. Boleh saja Grom berjaya di medam tempur Eropa yang bersuhu dingin, tapi apakah jenis rudal ini juga handal saat dioperasikan di wilayah tropis seperti di Indonesia?
Rangkaian kendaraan tempur pengusung rudal Grom
Uji tembak pertama seluruh meriam dilakukan pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea – Bogor, oleh instruktur dari Polandia. Uji tembak ini disaksikan langsung oleh Direktur Peralatan TNI AD dan hasilnya meriam dapat beroperasi dengan baik, dan tembakan dapat mengenai sasaran seperti yang diharapkan.
Selanjutnya dilakukan uji tembak yang kedua, berlangsung pada 28 Oktober – 3 November 2007 di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesanteren, Kebumen – Jawa Tengah. Titik berat pengujian dilakukan pada rudal Grom yang diintegrasikan dengan Battery Command Vehicle dan MMSR. Uji tembak ini disaksikan oleh pucuk pimpina TNI AD, sasaran tembak yang dipakai adalah pesawat model yang dikendalikan dengan remote control. Hasilnya, dari empat kali penembakkan rudal, sasaran tidak dapat dihancurkan.

Mengenai kegagalan Grom, ada tanggapan dari pihak operator. “Menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sebenarnya (pesawat udara), sesunghunnya sasaran itu dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital yang dilindungi,” ujar Serka Sutoyo, Bintara Den Arhanud 003 Kodam Jaya, dikutip dari Majalah Defender, edisi September 2008.
Kemudian ada lagi uji coba rudal Grom pada 4 Mei 2010, dikutip dari Tribunenews.com, ujicoba tiga rudal di perairan Sekerat, Bengalon Kabupaten Kutai Timur,lagi-lagi tidak mengenai target.
Sistem senjata tersebut jenis Grom Komposit Meriam 23 MM Zur 23-2KG-1 yang diperagakan oleh 26 pria Polandia. Disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta, pejabat TNI AD, pejabat Kodam VI Tanjungpura, juga Muspida Kutim.

Dandim Kutim Letkol Inf Mukhtar menjelaskan, peragaan beberapa elemen sistem persenjataan itu berfungsi secara integral. Adapun rudal yang meleset sedikit dari target atau sasaran karena pengaruh cuaca panas. Menurutnya, sesaat sebelum misil meluncur, komputer melakukan pengecekan terhadap 3 parameter yaitu sistem elektronik misil, jarak sasaran, dan besar suhu sasaran. Bila salah satu parameter tersebut tidak terpenuhi, maka misil tidak akan meluncur ke sasaran. Dalam uji coba, rudal meledak tanpa mengenai target.
Usai peluncuran, pihak pelaksana uji terima menganalisa bahwa faktor yang mengakibatkan luputnya sasaran adalah cuaca panas. “Karena cuaca di Kutim panas, maka misil yang menggunakan detektor suhu bisa jadi luput dari sasaran. Berbeda saat uji coba di Polandia dan Jawa Tengah yang sukses mengenai target” ujar Letkol Muchtar. KSAD Jenderal TNI George Toisutta mengatakan akan membicarakan kembali rencana pembelian rudal ini di Jakarta. Kemungkinan juga akan ada pengujian ulang di Ambal, Jawa Tengah.
Skema gelar Kobra Defence system, terlihat satu sistem radar dapat memasok informasi ke beberapa peluncur Poprad dan meriam 23 mm
Melihat beberapa kali kegagalan Grom dalam uji coba, pertanyaan lalu muncul, apakah Grom adalah alutsista yang cocok untuk Indonesia? Kalau yang menjadi alasan seputar di hawa yang panas, bagaimana dengan gelar operasi Grom saat digunakan di medan perang sesungguhnya, bukankan sebagian besar wilayah/obyek vital berada di area yang panas menyengat, semisal di daerah kilang minyak. Jangan sampai nantinya target sudah terkunci, jutru rudal malah loyo sebelum ditembakkan. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Rudal Grom
Pabrik : Mesko, Skarżysko-Kamienna – Polandia
Panjang : 1.596 mm
Diameter : 72 mm
Berat rudal : 10,5 Kg
Berat rudal + peluncur : 16,5 Kg
Berat amunisi : 1,82 Kg
Jarak tembak horizontal : 5.500 meter
Jarak tembak vertikal : 4.000 meter
Kecepatan : 650 meter/detik

RUDAL STARSTREAK INDONESIA

Satuan Arhanud TNI AD akhirnya dilengkapi dengan misil jarak dekat anti pesawat, Startstreak buatan Inggris. Arhanud memiliki beberapa jenis misil Starstreak, yang ditempatkan di beberapa jenis kendaraan tempur dan portabel.
Rudal Starstreak buatan Thales Air Defence Inggris merupakan SHORAD (short range air defence) rudal anti pesawat high velocity. Setelah ditembakkan kecepatannya terus berkembang hingga 3,5 Mach, untuk mengejar sasaran sejauh 7 kilometer.
Starstreak dipandu tiga laser beam, untuk meningkatkan kesuksesan mengunci dan menyergap pesawat musuh. Misil ini pun dilengkapi sistem foe and friend, sehingga tidak salah menembak sasaran.


Starstreak digunakan Inggris sejak tahun 1997, dengan kemampuan yang terus dikembangkan. Startstreak II diluncurkan tahun 2007, bisa menyergap pesawat lebih jauh dan dioperasikan dari berbagai ketinggian (helikopter dan kapal laut).
Menjelang Olimpiade London 2012, Menteri Pertahanan Inggris, memerintahkan tentara memasang Starstreak di beberapa menara apartemen di London, untuk mengamankan Olimpiade dari gangguan teroris.


Misil Startstreak Portabe

Jarak efektif startstreak dalam menyergap sasaran 0,3 – 7 kilometer.
Saat ini Indonesia menggunakan sebagian besar varian Lightweight Multiple Launcher (LML). Satu unit Starstreak LML terdiri dari 3 rudal siap tembak, yang dipasang di atas kendaraan tempur ringan. Sementara varian SP HVM, dipasang di atas kendaraan lapis baja Stormer dengan 8 misil aktif. Stormer Indonesia yang berfungsi sebagai pengangkut pasukan, bisa menjadi senjata yang menakutkan jika dipasang Startstreak SP HVM. Inggris lebih banyak mengoperasikan varian SP HVM dibanding LML.



Misil Starstreak di Tank Stormer
Hingga saat ini ada tiga negara pengguna Startstreak: Inggris, Indonesia dan Afrika Selatan. Indonesia merupakan pengguna terbesar Starstreak dengan 135 sistem LML. Rudal rudal tersebut disebar ke seluruh satuan Arhanud, untuk menjaga obyek vital di bawah kodam masing-masing. Grom
Selain misil Starstreak, Arhanud TNI AD juga dilengkapi sistem senjata Rudal short range air defence, Grom. Rudal buatan Polandia ini, memperkuat Arhanud sejak berakhirnya masa tugas Rapier tahun 2007.





Rudal Grom Shorad Arhanud

Beberapa satuan yang dilengkapi rudal Grom antara lain: Detasemen Rudal Kodam Jaya, Kodam Iskandar Muda, Kodam Tanjungpura, Kodam Bukit Barisan dan beberapa detasemen rudal lainnya. Arhanud memiliki beberapa jenis sistem Grom, baik yang dipasang di kendaraan tempur (Propad 4 peluncur), portable atau pun kombinasi dengan Meriam 23 mm Zur.
Dalam operasionalnya, rudal Grom ini dipandu radar pencari sasaran MMSR (Multibeam Mobile Search Radar). Radar MMSR akan mengirimkan pesan ke BBCV untuk diolah dan ditayangkan pada layar monitor dalam bentuk peta digital mengenai jarak sasaran. Penyergapan pun dimulai.
RBS 70
Arhanud juga memiliki rudal RBS 70 (Robotsystem 70). RBS 70 adalah man-portable air-defense system (MANPADS) anti pesawat yang beroperasi secara mandiri.



Tahun 2011, pabrik pembuatnya Saab Bofors Dynamics Swedia mengeluarkan varian baru RBS 70 NG, yang bisa menembak pesawat musuh pada malam hari. Cukup banyak negara yang menggunakan RBS 70, dari Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Australia. Di Asia tenggara, pengguna RBS 70 adalah Indonesia, Singapura dan Thailand.



Dengan adanya rudal Starstreak, Grom dan RBS 70, Arhanud TNI AD minimal memiliki sistem pertahanan kombinasi. Kedepannya Arhanud TNI AD akan dilengkapi dengan pertahanan udara jarak menengah. Hal ini sedang dibicarakan dengan TNI AU, agar tidak tumpang tindih.(Jkgr).

RUDAL AT-9 ATAKA INDONESIA



Heli tempur Mi-35
Tanpa pemberitaan yang berlebih, kedatangan armada helikopter tempur Mi-35P dari Rusia yang melengkapi Skadron 31/Serbu Penerbad pada tahun 2010, nyatanya juga membawa angin segar untuk lini rudal anti tank di Tanah Air. Mi-35P yang juga dikenal sebagai APC terbang, karena kemampuannya membawa 8 pasukan bersenjata lengkap, hadir melengkapi Skadron 31 dengan etalase persenjataan yang cukup garang, seperti roket S-8 kaliber 80mm, pelontar chaff/flare, kanon standar GSh-30-2 kaliber 30mm, dan sosok rudal AT-9 Spiral-2.
Seperti halnya identitas penamaan pada rudal AT-5, identitas AT-9 juga merupakan penamaan yang diberikan oleh pihak NATO. Nama asli rudal ini adalah 9M120 Ataka, dibuat oleh KBP Instrument Design Bureau, manufaktur alutista dari Rusia. Meski kodratnya sebagai rudal pelibas tank, tapi ada kekhususan pada AT-9, yakni rudal ini sengaja dirancang untuk platform peluncuran dari udara.
AT-9 terbilang rudal yang belum berusia terlalu tua, Uni Soviet sendiri baru mulai mengoperasikan rudal ini pada tahun 1990-an. Desain AT-9 merupakan pengembangan dari versi sebelumnya, AT-6 Spiral, dengan penyempurnaan pada sisi akurasi, kecepatan, dan jangkauan. Rudal ini menganut sistem pemandu SACLOS (Semi Automatic Command to Line of Sight), dimana operator harus membidik target sampai rudal berhasil mengenai target, jalur kendalinya berupa sinyal radio. Dalam pola pengoperasiannya, pilot dan juru tembak harus sama-sama mengarahkan helikopter ke arah target hingga rudal tepat tiba di sasaran. Ada rumor yang menyebutkan, versi AT-9 ada yang dirancang dengan pemandu laser, menjadikan AT-9 dapat dioperasikan secara fire and forget.
Rudal AT-9 terpasang pada sayap heli Mi-35P Penerbad
Rudal AT-9 milik Penerbad dalam sebuah display
Ada tiga jenis AT-9 yang dioperasikan untuk menghajar spesifik target, pertama anti lapis baja dengan tandem HEAT (High Explosive Anti Tank), yakni AT-9 yang dilengkapi proyektil peledak dengan dua tahap detonasi, tandem HEAT memang dipersiapkan untuk menghancurkan kendaraan berlapis baja, termasuk MBT (main battle tank). Kedua adalah jenis 9M120F, pada jenis ini AT-9 dilengkapi dengan hulu ledak thermobaric, pada thermobaric peledak akan menghasilkan gelombang ledakan dengan durasi yang lebih lama, pola ini juga dikenal dengan sebutan “air fuel bomb” yang ditargetkan untuk memanggang pasukan infantri, sehingga dapat mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar. Thermobaric mengandalkan oksigen dan udara untuk pengoperasiannya, dan sangat pas untuk menghajar target infantri yang bersembunyi di dalam terowongan, gua, atau bunker.
Jenis ketiga adalah 9A220O, di jenis ini AT-9 dilengkapi dengan hulu ledak expanding rod, sebuah amunisi khusus yang menggunakan pola fragmentasi ledakan annular. Jenis ketiga ini dikhususkan bagi AT-9 untuk melibas target berupa helikopter, untuk akurasinya ada bekal sistem laser pada jenis ini. Tidak ada informasi jenis AT-9 mana yang digunakan oleh Penerbad TNI AD, tapi besar kemungkinan adalah versi utama yakni AT-9 dengan tandeam HEAT. Dari ketiga jenis AT-9 tadi, Rusia juga mengembangkan lagi jenis 9M120M, tidak diketahui pasti fitur yang ditawarkan pada jenis ini, kecuali jangkauan rudal yang didongkrak mencapai 8 Km.
Tampilan utuh rudal AT-9, berikut tabung peluncurnya
Tampilan belakang rudal AT-9, berikut tampilan belakang tabung peluncurnya
Dalam segmen rudal anti tank, jangkauan AT-9 terbilang cukup jauh, yakni bisa mencapai 6 – 8 Km dengan kecepatan luncur 550 meter per detik. Rusia pun nyatanya sangat mengandalkan AT-9 sebagai jawara alutsistanya, terbukti rudal ini tak hanya dirancang untuk diluncurkan dari heli Mi-35/Mi-24 saja, heli tempur kelas berat Mi-28 Havoc pun juga mengandalkan AT-9 untuk menggasak target tank. Bahkan tak itu saja, ada versi Ataka-T yang bisa diluncurkan dan platform kendaraan di darat, dan jenis Ataka lain yang bisa meluncur dari kapal patroli.
Rudal AT-9 dipasang pada heli tempur Mi-28 Havoc, AT-9 menjadi lawan tanding untuk rudal Hellfire dari AS
Salah satu yang menarik dari rudal berbobot 49 Kg ini adalah sifat frekuensi radionya yang memiliki kekebalan pada jamming infrared dan elektronik lawan. Alhasil tak hanya Rusia dan Indonesia yang menggunakan AT-9, sampai saat ini AT-9 diketahui juga telah digunakan oleh Venezuela, Brazil, India, dan Slovenia. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi AT-9
Berat keseluruhan : 49 Kg
Berat hulu ledak : 7,4 Kg
Panjang : 1,83 Meter
Diameter : 13 Cm
Sistem Peluncuran : SACLOS (Semi-Automatic Command to Line of Sight)
Moda Peluncuran : air launcher
Lebar sayap : 36 Cm
Jarak Jangkau : 400 meter sampai 6 Km
Kecepatan : 550 meter per detik

RUDAL KH-31P INDONESIA

Rudal Kh-319 atau AS 17 Krypton TNI
Indonesia terus memperkuat sistem rudalnya, baik untuk anti kapal permukaan, anti pesawat terbang serta anti-radar atau sistem pertahanan udara musuh. Salah satu yang mumpuni adalah rudal KH 31P atau yang populer disebut
AS-17C Krypton.
AS-17C Krypton
Tahun 2012 ini Indonesia mendatangkan KH-31P / AS-17C Krypton buatan Rusia. Pada awalnya, rudal AS-17C Krypton ini, diciptakan sebagai jawaban atas munculnya sistem pertahanan udara Patriot Amerika Serikat.

Rudal AS 17 Kripton Indonesia

Rudal AS-17C Krypton dirancang untuk melumpuhkan sistem pertahanan musuh. Untuk itu ia didisain memiliki kecepatan sangat tinggi, mampu terbang jauh, anti-radar dan bisa mematikan penjejaknya saat diserang. Untuk mendapatkan kecepatan yang sangat tinggi, rudal Rudal Kh-31P didorong oleh 5 roket booster dan ramjet yang dipadukan dalam dual roket pendorong. Bentuknya mirip wahana antariksa Rusia, karena memang didisain oleh biro disain Soyuz di Turayevo.

Saat meluncur, pada tahap awal misil ini berakselerasi dengan mesin roket untuk mendapatkan kecepatan 1,8 Mach. Setelah itu mesin pendorong pertama dilepas untuk digantikan 4 mesin jet pendorong, demi mencapai kecepatan 5 Mach.
Kecepatan tinggi rudal ini berguna untuk mengurangi resiko tertembak, karena dia harus menerobos sistem pertahanan musuh untuk menghancurkan radar penjejak (air search radars) dan fire control radar.
Rudal AS-17C Krypton memiliki panjang 5, 2 meter dengan berat 600 Kg dan mampu menembak sasaran sejauh 200 km. Karena rudal ini ditugaskan untuk menghancurkan radar musuh, dia tidak dibebani hulu ledak besar, melainkan hanya 90 Kg (Blast Frag). Namun misil ini bisa terbang dari 165 hingga 49.000 feet.
Dalam perkembangannya rudal ini bisa dipasang di kapal laut ataupun pesawat tempur Mig 29, Sukhoi SU-27 maupun SU 30. Kelebihan rudal ini, mampu menghantam kapal perang, drone ataupun pesawat mata-mata. Untuk itu AS-17C Krypton disebut juga “AWACS killer”. Ia bisa menembak sasaran baik di darat maupun udara.

SU 30 MK menembakkan AS 17 Krypton

Rudal AS-17C Krypton diciptakan untuk melumpuhkan sistem pertahanan musuh, melalui sebuah serangan ofensif ataupun counter attack. Yakhont
Selain itu, Indonesia juga menambah jumlah rudal Yakhont SS-N-26 di berbagai kapal fregat, untuk memperkuat taring tempur armada TNI AL. Setelah mendatangkan 4 Rudal Yakhont pada tahun 2010, Indonesia kembali menerima 10 Rudal Yakhont di tahun 2012. Dalam kontraknya dengan Rusia, Indonesia akan mendatangkan 50 rudal Yakhont yang berjarak tembak 300 km.

Rudal SS-N-26 Yakhont

Saat ini, 11 Helikopter Over Tha Horizon Target (OTHT) juga sedang dipesan TNI AL. Helikopter tersebut berfungsi untuk menjejak sasaran di luar batas cakrawala lalu menyuplai datanya ke Fregat yang dipasang rudal Yakhont (Jkgr).