Tampilkan postingan dengan label KRI TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRI TNI AL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

CHANGBOGO CLASS INDONESIA

 
Berbicara mengenai postur TNI-AL yang ideal tidaklah pas kalau tidak berbicara mengenai kapal selam. Terlintas dalam ingatan kita di tahun 2007 mengenai rencana TNI-AL untuk memperkuat armada kapal selam kita, Cakra Class (U-209/1300) dengan tambahan 2-4 kapal selam lagi. Santer pada waktu itu kalau kapal selam yang akan diadakan adalah dari kelas Kilo Project 636/Varshavyanka buatan Rusia. Terbayang betapa gagah dan gaharnya kekuatan TNI-AL kalau saja sampai dilengkapi dengan kapal selam Kilo tersebut. Berapa dahsyat efek deteren yang kita punya kalau saja kita punya kapal selam tersebut.
Namun harapan tinggal harapan, tahun telah berganti tahun, namun program pengadaan kapal selam TNI-AL makin lama makin menjadi tidak jelas. Malah dari kabar terakhir, makin kelihatan bahwa Kilo sudah semakin jauh dari harapan untuk dapat memperkuat TNI-AL. Malah yang makin santer adalah Changbogo Class buatan Korea Selatan yang memiliki kans besar untuk memperkuat kekuatan kapal selam TNI-AL. Hal ini makin diperkuat dengan berhasilnya T-50 Golden Hawk untuk memperkuat TNI-AU mengalahkan YAK-130 yang merupakan contender yang sangat kuat di awal tender. Terlebih lobi kuat dan intens yang terus dilakukan oleh Presiden Korea Selatan Lee Myung Bak dan terakhir kunjungan parlemen Korea Selatan bidang pertahanan ke Indonesia semakin memperlihatkan kemungkinan besar kearah pengadaan Chongbogo Class untuk TNI-AL.
Oleh karena itu ada baiknya sama-sama kita review bagaimana sebenarnya kapal selam Changbogo Class dari Korea Selatan ini.
Secara teknis, Changbogo Class adalah lisensi dari U-209/1200 yang dibuat oleh pabrik Daewoo Shipbuilding Korea Selatan. Daewoo shipbuilding sudah membuat 9 kapal selam sejenis untuk angkatan laut Korea Selatan. U-209 sendiri di design untuk menghancurkan kapal selam lawan, kapal permukaan, melindungi pangkalan kawan, dan misi pengintaian. Secara umum Changbogo class serupa dengan Atilay-class submarine milik Turki yang memiliki penekanan pada penggunaan sistem sensor dan persenjataan buatan Jerman.
Pada saat menyelam, kapal selam ini dapat menyelam sampai kedalaman 250 m. Dengan dilengkapi dengan 4 MTU mesin diesel, kapal selam ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 21 knots (posisi menyelam) dan 11 knots (posisi permukaan). Kapal ini dapat membawa 8 buah 533mm/21 inch torpedo di haluan dan dipersenjatai dengan total 14 torpedo atau 28 ranjau laut. Kapal selam ini juga mampu untuk beroperasi secara terus menerus selama 2 bulan dengan 40 orang crew. Di bawah ini merupakan table spesifikasi teknis dari Changbogo Class :

Entered service
1993
Crew
33 men
Diving depth (operational)
250 m
Diving depth (maximum)
?
Sea endurance
?
Dimensions and displacement
Length
56 m
Beam
6.2 m
Draught
5.5 m
Surfaced displacement
1 100 tons
Submerged displacement
1 285 tons
Propulsion and speed
Surfaced speed
11 knots
Submerged speed
22 knots
Diesel engines
4 x 3 810 hp
Electric motors
1 x 4 595 hp
Armament
Torpedoes
8 x 533-mm bow tubes for 14 torpedoes
Other
28 mines in place of the torpedoes
Di atas dapat kita lihat memang secara kemampuan, Changbogo Class cukup mumpuni untuk menjadi bagian dari satuan kapal selam TNI-AL. Ditambah, TNI-AL sudah cukup berpengalaman untuk dalam mengoperasikan Cakra Class yang notebene merupakan saudara sepupu dari Changbogo Class.
Satu hal positif dari pengadaan alutsista dari Korea Selatan, pihak Korea Selatan sangatlah terbuka dalam proses ToT atau Transfer of Technology. Hal ini sudah terbukti dari suksesnya ToT dari pengadaan LPD oleh PT. PAL. Sangatlah mungkin apabila Changbogo Class menjadi bagian dari TNI-AL, maka proses kemandirian alutsista Indonesia akan menjadi sangat lengkap dengan penguasaan teknologi kapal selam.
Namun demikian, patutlah diingat bahwa Changbogo Class bukanlah kapal selam dengan teknologi terbaru. Kapal selam ini merupakan kapal selam dengan teknologi tahun 80an. Maka apabila Changbogo Class menjadi bagian dari TNI-AL, maka kemampuan yang harus dimiliki haruslah mumpuni sehingga tidak menjadi sekedar anjing kampung tetapi dapat menjadi anjing herder. Changbogo Class milik TNI-AL haruslah dilengkapi dengan AIP (Air Independent Propulsion) untuk mendongkrak daya senyapnya. Sistem kontrol, kontrol senjata, navigasi, dan pengindraan haruslah sistem yang tercanggih dan dilengkapi dengan passive towed array sonar. Selain itu untuk mendongkrak deterrentnya, TNI-AL harus melengkapi kapal selam ini dengan VLS untuk Harpoon SSM atau Yakhont.

Jumat, 31 Mei 2013

KRI CAKRA CLASS

KRI Cakra (401). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
 KRI Cakra (401)
KRI Cakra (401) merupakan kapal pertama dalam jenis Kapal selam kelas Cakra. Kapal ini merupakan kapal kedua yang menyandang nama Cakra dalam jajaran TNI AL. Kapal pertama merupakan KRI Tjakra (ejaan lama) salah satu dari 12 kapal selam kelas Tjakra buatan Russia (Kapal Selam Kelas Whiskey) yang di scrap tahun 70-an. KRI Cakra dibuat oleh Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981. Merupakan Kapal selam tipe 209/1300 yang banyak digunakan oleh Angkatan Laut sedunia. Mempunyai semboyan "Tabah Sampai Akhir".

KRI Cakra (401) termasuk dalam armada pemukul TNI Angkatan Laut. Kapal lain dalam kelas Cakra adalah KRI Nanggala (402). Kedua kapal selam tersebut dibuat di Jerman Barat, dipesan pada tahun 1977 dan pada tahun 1981, mulai bertugas bersama dengan KRI Nanggala (402). KRI Cakra mengambil nama dari senjata pewayangan.

Tenaga digerakan oleh motor listrik Siemens jenis low-speed disalurkan langsung (tanpa gear pengurang putaran) melalui sebuah shaft ke baling-baling kapal. Total daya yang dikirim adalah 5000 shp (shaft horse power), tenaga motor listrik datang dari baterai-baterai besar yang beratnya sekitar 25% dari berat kapal, baterai dibuat oleh Varta (low power) dan Hagen (Hi-power). Tenaga batere diisi oleh generator yang diputar 4 buah mesin diesel MTU jenis supercharged. Senjata terdiri dari 14 buah terpedo buatan AEG , diincar melalui periskop buatan Zeiss yang diletakan disamping snorkel bikinan Maschinenbau Gabler.

Data teknis
KRI Cakra (401) memiliki berat selam 1,395 ton. Dengan dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Ditenagai oleh mesin diesel elektrik, 4 diesel, 1 shaft menghasilkan 4,600 shp. Sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 21,5 knot. Diawaki oleh 34 pelaut.

Persenjataan
Sebagai bagian dari armada pemukul KRI Cakra (401) dipersenjatai 14 buah torpedo 21 inci dalam 8 tabung.

Sensor dan elektronis
KRI Cakra (401) mempunyai sonar dari jenis CSU-3-2 suite.

KRI CONDOR CLASS

  • Sejarah Condor Class Indonesia
Kapal Jenis Condor merupakan bagian dari pembelian 39 kapal eks-Jerman Timur oleh B.J. Habibie pada tahun 1990-an pada masa pemerintahan Presiden Suharto. Kapal kapal ini termasuk kapal penyapu Ranjau dan berjumlah 9 Kapal jenis Condor class. Setelah banyak polemik nasional mengenai pembelian kapal kapal ini yang membengkak karena perlu biaya pembetulan, akhirnya kapal tersebut masuk menjadi kekuatan satuan kapal TNI AL.

Dewan akhirnya menggagas desakan penghapusan utang negara sebesar Rp 5,6 triliun untuk pembelian 39 kapal tempur eks-Jerman Timur. Namun, TNI AL justru merasa diuntungkan dengan adanya kapal-kapal itu.

Wakil Kepala Staf TNI AL Laksdya Moekhlas Sidik menuturkan, saat ini dari 39 unit mesin tempur laut tersebut, sebanyak 90 persen di antaranya sudah berada dalam kondisi siap beroperasi. Kesiapan itu, sambung dia, diraih setelah TNI AL melakukan repowering terhadap kapal-kapal tersebut.

"Sebanyak sekitar 90 perse kapal eks-Jerman sekarang sudah layak laut," tuturnya, kepada Media Indonesia di Jakarta.

Keunikan dari nama-nama kapal pada kelas ini terletak pada seluruh nama kapal yang menggunakan singkatan PR (Penyapu Ranjau), kecuali KRI Kelabang yang sebelumnya bernama KRI Pulau Rondo dan KRI Kala Hitam sebelumnya bernama KRI Pulau Raibu.

Sungguh suatu keputusan yang bijaksana telah di lakukan oleh pemerintah Indonesia dan TNI AL, Karena keterbatasan anggaran untuk membeli Alutsista yang baru, maka pemerintah dan TNI AL merubah fungsi kapal penyapu ranjau kelas Condor milik TNI AL yang telah rusak peralatan sebagai penyapu ranjaunya  menjadi Kapal Patroli.

Kapal - kapal tersebut adalah :

  • KRI Pulau Rondo 725 ---> KRI Kelabang 826
  • KRI Pulau Raibu 728 ---> KRI Kala Hitam 828

Daripada kapal penyapu ranjau tersebut tidak dapat berfungsi, lebih baik di gunakan sebagai kapal patroli untuk menjaga kedaulatan NKRI. Semua karena keterbatasan anggaran pembelian alutsista.
Ruang mesin KRI 727 Pulau Rangsang

Lantaran itulah, Wakil KSAL menandaskan, keberadaan kapal tidak menjadi beban bagi TNI-AL. Bahkan terkait krisis ekonomi global saat itu, dia mengakui, keberadaan kapal-kapal jenis Condor cukup membantu.

Kapal perang dengan spesifikasi panjang berukuran 56,7 meter dengan lebar 7,8 yang dilengkapi dengan persenjataan Meriam 37 mm termasuk dalam satuan Kapal Penyapu Ranjau (Satran)TNI AL.

9 Kapal Penyapu Ranjau kelas Kondor TNI AL :

KRI Pulau Rote (721)
KRI Pulau Ronte 721 bersama Kapal lainnya
ex GDR Hettstedt (353) not available picture
KRI Pulau Romang 723
KRI Pulau Rimau (724)
KRI Pulau Rimau 724
KRI Kelabang 826

KRI Pulau Rusa 726

KRI Pulau Rangsang 727
KRI Kala Hitam 828

KRI MAKASSAR CLASS

KRI Makassar 590 merupakan kapal pertama dari dua unit kapal yang dibangun oleh Daesun Shipbuildings & Engineering CO. Ltd, Korea Selatan. Kapal ini dirancang sebagai kapal Landing Platform Dock (LPD) atau kapal yang mempunyai platform docking dan undocking untuk mengoperasikan LCU. Kapal ini mulai dibangun pada 26 September 2005, ini merupakan tindak lanjut dari kontrak kerjasama yang ditandatangani pada Desember 2004, dalam kontrak tersebut berisi kerja sama dalam pembangunan empat kapal LPD yang dua unit kapal dibuat di Korea ( KRI Makassar 590, KRI Surabaya 591 ) dan dua unit lainnya dibangun di PT PAL Surabaya ( KRI Banjarmasin 592, KRI Banda Aceh 593 ).
KRI Makassar 590 resmi bergabung dengan jajaran armada TNI AL pada 1 Agustus 2007 yang berkedudukan di jajaran organik Satuan Amfibi (Satfib) Koarmatim. Pengukuhan nama Makassar pada kapal ini didasarkan atas Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut tentang ketentuan pokok pemberian nama Kapal-kapal Perang Republik Indonesia. Dimana pemberian nama kapal perang RI berjenis LPD bersumber dari nama-nama kota maritim yang bersejarah bagi TNI AL.
KRI Makassar selain mempunyai fungsi utama mengangkut pasukan beserta seluruh perlengkapan dan kendaraannya dalam melaksanakan Operasi Amfibi, kapal ini juga bisa difungsikan sebagai kapal komando (Markas) dan dapat juga difungsikan untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam.
KRI Makassar memiliki desain semi Stealth serta dilengkapi dengan meriam, dua landasan helikopter (helipad), ruang Combat Information Center (CIC), sistem komunikasi sebagai penghubung dengan kapal-kapal jenis kombatan untuk melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan tempur serta pengendalian pendaratan helikoter. Kapal ini juga dapat mengangkut pasukan sebanyak 507 personel, 13 kendaraan tempur jenis tank, dua helikopter dan sejumlah peralatan militer lainnya.
lpd-makassar-class.jpg
Spesifikasi KRI Makassar 590
  • Berat : 7.800 ton
  • Panjang : 122 meter
  • Lebar : 22 meter
  • Draft : 4,5 meter
  • Kecepatan :
    maksimal 16 knot
    jelajah 14 knot
    ekonomis 12 knot
  • Jarak tempuh : 30 hari (tanpa pasukan)
  • Awak kapal : 100 orang
Sonar dan Radar
  • Radar Navigasi Tokimec
Persenjataan Helikopter
  • 3 unit Helikopter ( 2 di geladak heli dan 1 di hanggar )

KRI MANDAU CLASS



KRI Mandau (621)
KRI Mandau (621) merupakan kapal patroli cepat berpeluru kendali milik TNI AL. KRI kelas Mandau ini berperan sebagai kapal patroli utama TNI AL dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI.

KRI kelas Mandau dibuat oleh perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Tacoma SY, Masan pada 1979. Beberapa variant dari kapal kelas ini diantaranya : KRI Rencong (622) dibuat pada 1979, KRI Badik (623) dibuat pada 1980, dan KRI Keris (624) dibuat pada 1980.

KRI Mandau diawaki oleh 43 orang anak buah kapal termasuk komandan kapal. KRI Mandau tidak dilengkapi untuk pertempuran anti kapal selam (ASW) dan juga tidak dilengkapi dengan sonar pendeteksi bawah laut.

Namun untuk pertempuran permukaan persenjataan yang dimilikinya lumayan lengkap. Awalnya KRI Mandau dilengkapi dengan rudal permukaan Exocet MM-38 dengan jarak jangkau 42km. Semenjak ada kerjasama alih teknologi dengan China, Exocet mulai diganti dengan rudal C-802 buatan SACCADE.

⚓ Spesifikasi :

Panjang : 53.58 meter.
Lebar : 1.63 meter.
Jelajah tempur 41NM (Nautikal Miles). 
Bobot penuh : 290 ton.
Bobot kosong : 255 ton.

Sensor dan Radar :

Radar  MR-302/Strut Curve
Radar  kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob

Tenaga Penggerak :

Kapal ini digerakan oleh 2 buah mesin diesel dan sebuah mesin turbin. Mesin Diesel digunakan saat kecepatan rendah atau menghemat BBM sedangkan mesin turbin digunakan bila kapal ingin mencapai kecepatan  maksimal dengan konsekuensi bahan bakar menjadi lebih boros.
(2 M504 Diesel, 1425 hp, melalui 2 shaft ke 2 propeler ,dan 1 turbin GE  LM 1500)

♆ Persenjataan umum Mandau Class :

• Rudal Permukaan-ke-Permukaan Aerospatiale MM-38 Exocet : 4 pucuk (2 x 2).
Jangkauan maksimum 42 km (23 mil laut) dengan kecepatan 0,9 mach, berhulu ledak 165 kg, berpemandu active radar homing, bersifat jelajah inersia, sea-skimmer.

• Meriam Bofors 57 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 200 rpm, berjangkauan maksimum 17 km (9,3 mil laut) dengan berat amunisi 2,4 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal, berpemandu tembakan Signaal WM-28.

• Meriam Bofors 40 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 300 rpm, dengan jangkauan maksimum 12 km (6,6 mil laut) dengan berat amunisi 0,96 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal.

• Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm : 2 pucuk, kecepatan tembakan 1000 rpm, dengan jangkauan efektif 2 km dengan berat amunisi 0,24 kg, anti pesawat udara, helikopter.
Persenjataan :
Penggunaan C-802 pada KRI Mandau sempat membuat efek deterence yang besar pada kapal ini, meskipun baru mengaplikasi tabung peluncur pada buritan kapal.

TNI-AL merencanakan mengganti rudalnya dengan dengan rudal anti-kapal C-802 Saccade buatan Cina. Setiap kapal dirancang untuk dilengkapi dengan dua rudal C-802 Saccade yang sepanjang 6.39 meter, panjang sayap 1.22 meter, seberat 715 kg. Rudal ini memiliki jarak serangan 120 km (melebihi Exocet) pada kecepatan 0.9 Mach. Rudal ini juga dilengkapi radar yang mampu mengatasi sistem penangkis elektronik (Electronic Counter measure - ECM).

KRI Mandau (621) dibuat pada 1979.

KRI Mandau 621

KRI Rencong (622) dibuat pada 1979.
KRI Rencong 622

KRI Badik (623) dibuat pada 1980.
KRI Badik 623
KRI Keris (624) dibuat pada 1980.
KRI Keris 624

Berikut Foto Kapal Mandau Class TNI AL

KRI CLURIT CLASS


KRI Clurit adalah Kapal Perang Republik Indonesia bertipe Kapal Cepat Rudal (KCR 40) yang pembuatannya dilakukan PT Palindo di Batam . Menhan berjanji akan terus membangun kapal-kapal perang seperti KRI Clurit yang 100% pembuatannya di lakukan di PT Palindo Marine Industries, Tanjunguncang, Batam. KRI Clurit (641) merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat pula.Untuk membuat KCR 40 dengan dana sebesar Rp62 miliar (6.9 juta $)
Kapal Cepat Rudal terbuat dari baja khusus High Tensils Steel pada bagian hulunya (lambung). Baja ini diperoleh dari PT.Krakatau Steel. Sementara untuk bagian atasnya, kapal ini menggunakan aluminium Alloy yang memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi jika berlayar. KRI Clurit memiliki sistem pendorong fixed propeller lima daun (Baling-baling memberi putaran pada arus slip untuk mempercepat air).
KRI Clurit dilengkapi 1 unit meriam 6 barel caliber 30 MM, 2 unit meriam anjungan  caliber 20 MM dan peluru kendali 2 set Rudal C-705 dan dilengkapi dengan sistem persenjataan canggih berupa Sensor Weapon Control (Sewaco)
Spesifikasi :
Panjang           : 43 meter
Lebar               : 7,4 meter
Berat               : 250 ton
Awak Kapal    : 35 personil
Kecepatan       : 27 knot

Read more: http://indonesian-warfare.blogspot.com/2012/07/kri-clurit-641_05.html#ixzz2UrukALP7

KRI MALAHAYATI CLASS


KRI Malahayati (362). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Malahayati (362)
KRI Malahayati (362) merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Fatahillah milik TNI AL. Dinamai menurut Malahayati, salah seorang Laksamana wanita. KRI Malahayati merupakan sebuah fregat yang dibuat oleh galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai armada pemukul dengan kemampuan antikapal permukaan, antikapal selam dan antipesawat udara. Termasuk dalam kelas Fatahillah bersama KRI Malahayati antara lain KRI Fatahillah (361) dan KRI Nala (363).

Data teknis
KRI Malahayati (362) memiliki berat 1.450 ton. Dengan dimensi 83.85 meter x 11.1 meter x 3.3 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 boost gas turbine dengan22.360 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 30 knot. Diawaki oleh maksimal 82 pelaut.

Persenjataan
KRI Malahayati (362) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
  • 4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan [Aerospatiale] MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 Km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 Kg.
  • 1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120mm (4.7 inchi) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 Km dengan sistem pemandu tembakan Signaal WM28.
  • 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
  • 12 torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
  • Mortir anti kapal selam Bofors 375mm laras ganda.
Sensor dan elektronis
KRI Malahayati (362) dilengkapi radar Racal Decca ARPA BridgeMaster250 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Radar pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menggunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy. Electronic Support Measures (ESM) dari tipe DR-3000 (Dalam proses pemasangan) menggantikan Susie yang telah uzur. Pemandu tembakan optronik dari jenis Liod Mk1.

KRI KI HAJAR DEWANTARA CLASS


KRI Ki Hajar Dewantara (364). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Ki Hajar Dewantara (364)
KRI Ki Hajar Dewantara (364) merupakan kapal perusak kawal berpeluru kendali. Kapal ini juga merupakan kapal perang latih bagi anggota TNI AL. KRI Ki Hajar Dewantara merupakan bagian dari armada pemukul (striking force). Memiliki kemampuan jelajah dan persenjataan yang mumpuni bagi pengawalan dan perlindungan kawasa perairan Republik Indonesia. KRI Ki Hajar Dewantara mengambil nama dari seorang pahlawan nasional yang juga merupakan Bapak Pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara.

Data teknis
KRI Ki Hajar Dewantara (364) memiliki berat 1,850 ton. Dengan dimensi 96,70 meter x 11,2 meter x 3,55 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah, 2 shaft menghasilkan 7000 bhp dan 1 boost turbine dengan 22,300 shp. Sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 27 knot. Diawaki oleh 91 pelaut 14 instruktur dan 100 taruna.

Persenjataan
Sebagai bagian dari armada pemukul KRI Ki Hajar Dewantara (364) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan untuk menjaga wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
  • 4 rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet buatan Perancis dengan jangkauan maksimal sekitar 42 Km dengan kecepatan 0,9 mach dan hulu ledak seberat 165 Kg dalam konfigurasi 2x2.
  • 1 Meriam Bofors 57/70 berkaliber 57mm dengan kecepatan tembakan 200 rpm, jangkauan 17 Km untuk target permukaan dan udara dengan pemandu tembakan Signal WM28.
  • 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
  • 4 Torpedo AEG SUT, berpeluncur tabung 533mm, jangkauan 28 Km pada 23 knot atau 12 Km pada 35 knot dengan hulu ledak seberat 250 Kg.
  • Bom Laut/Mortir Anti Kapal Selam
  • Peluncur peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral.
Sensor dan Elektronis
Sonar menggunakan PHS-32 hull mounted MF, kontrol penembakan menggunakan WM-28 dan EW menggunakan SUSIE-1 intercept, 2 flare RL

Penerbangan
KRI Ki Hajar Dewantara (364) memiliki landasan untuk helikopter NBO-105. NBO-105 adalah helikopter buatan Industri Pesawat terbang Nusantara (IPTN) yang sekarang telah berganti nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. Helikopter ini berfungsi sebagai over horizon survelilance, anti kapal selam dan transportasi.

KORVET PARCHIM CLASS INDONESIA

Korvet merupakan jenis kapal perang yang lebih kecil dari fregat dan lebih besar dari kapal patroli pantai, walaupun banyak desain terbaru yang menyamai fregat dalam ukuran dan tugas. Biasanya dimasukan kategori sebagai kapal patroli yang mampu melakukan operasi sergap dan serbu secara mandiri.
Korvet kelas Parchim dibuat untuk Volksmarine ( Angkatan Laut Jerman Timur ) pada akhir dasawarsa 1970-an . Penamaan menurut Pakta Warsawa adalah Project 133 . Di kemudian hari kapal ini disebut Project 133.1 untuk membedakannya dengan Project 133.2 Parchim II (pengembangan dari kelas Parchim). Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam di perairan dangkal/pantai. Enam belas kapal kelas parchim dibuat untuk Volksmarine (1997-1981) dan 12 kapal yang dimodifikasi dibuat untuk AL Soviet pada 1985-1990 oleh Peenewerft, Wolgast . Setelah Penyatuan kembali Jerman , mantan Jerman Timur menjual kapal-kapal ini ke TNI-AL Indonesia pada 1993 dan menjadi salah satu armada kekuatan TNI AL.
Kapal korvet kelas Parchim milik TNI AL :
  1. KRI Kapitan Patimura (371)
  2. KRI Cut Nyak Dien ( 375 )
  3. KRI Sultan Thaha Syaifuddin (376)
  4. KRI Hasan Basri ( 382 )
  5. KRI Imam Bonjol ( 383 )
  6. KRI Pati Unus (384)
  7. KRI Teuku Umar ( 385 )
  8. KRI Silas Papare ( 386 )
  9. KRI Untung Suropati ( 872 )
  10. KRI Nuku (873)
  11. KRI Lambung Mangkurat (874)
  12. KRI Sutanto (877)
  13. KRI Sutedi Senoputra (878 )
  14. KRI Wiratno (879)
  15. KRI Tjiptadi (881)
korvet-class-parchim-1.jpg
korvet-class-parchim-2.jpg
korvet-class-parchim-3.jpg
Desain kapal:
  • Bobot: 793 ton standard, 854 ton beban penuh
  • Panjang: 75.2 m
  • Lebar: 9.8 m
  • Draught: 2.73 m
  • Masin: 3 shaft M504 Diesel, 14,250 hp
  • Kecepatan: 24.7 knot
  • Jarak: 2100 nm pada 14 knot
  • Kru - 57 -60 personel
Persenjataan (Versi Jerman Timur) :
  • 2 - SA-N-5 SAM/Strela
  • 2 - 57 mm gun (1x2)
  • 2 -30mm gun (1x2) or 1 - AK-630
  • 2 - RBU-6000 -peluncur roket anti kapal selam
  • 4 - 400 mm tabung torpedo
  • 60 - ranjau

KORVET SIGMA CLASS INDONESIA

Korvet Class Sigma (Geometrical Modularity Approach) merupakan salah satu jenis kapal perang yang menjadi kekuatan TNI AL, kapal perang jenis ini memiliki persenjataan modern dan perlengkapan elektronik terbaru sehingga cocok sebagai jawaban untuk memenuhi tuntutan dari Fungsi armada laut yang kuat dan tangguh. TNI AL saat ini memiliki 4 unit kapal jenis ini yang pembuatannya dilakukan pada bulan Januari 2004 dan sudah aktif bertugas pada tahun 2009. Keempat Korvet ini dibuat di galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding (SNS), Vlissingen, Belanda. yang pada rencana awalnya untuk pembuatan 2 unit akan dilakukan oleh PT.PAL (indonesia) tetapi dibatalkan.
Sigma Class dirancang untuk menerima sistem modul di berbagai area, menyebabkan kapal ini mempunyai banyak keunggulan dibanding kapal perang dari jenis Korvet Class Parchim, diantaranya, perlengkapan komunikasi dan pertempuran yang lengkap serta modern, memiliki ruangan yang cukup luas untuk menampung awak 80 orang, memiliki sebuah dek helikopter dan propulsi diesel propeler ganda. Kemampuan propulsi dan keseimbangan yang tinggi dari kapal ini (dilengkapi dengan gulungan penyetabil pasif) membuatnya cocok untuk operasi pencarian dan patroli di perairan teritorial indonesia, di dalam persenjataan kapal jenis ini selain dilengkapi Torpedo dan Rudal pertahanan Udara Mistral dengat sistim peluncur tetral (otomatis) juga dilengkapi Rudal permukaan ke permukaan Exocet untuk keperluan perang anti kapal permukaan. jadi pada umumnya kapal perang jenis Korvet Class Sigma sudah bisa disejajarkan dengan kapal fregat dalam segi kemampuan tempur.
Fungsi dasar dari kapal ini adalah Patroli maritim Zona Ekonomi Ekslusif (EEZ), Penggetar, Pencarian dan penyelamatan (SAR) dan anti kapal selam. Dek helikopter mampu menampung sebuah helikopter dengan berat maksimum 5 ton dilengkapi dengan fasilitas lashing point dan sistem pengisian BBM. Operasi helikopter mampu dilakukan pada malam hari maupun siang hari.
Berikut spesifikasi Korvet Class Sigma untuk TNI AL
Torpedo
  • Kapal ini dilengkapi dengan torpedo 3A 244S Mode II/MU 90 yang dilengkapi dengan 2 peluncur torpedo tipe B515
Peluru kendali
  • Peluru kendali anti kapal MBDA Exocet varian terbaru MM40 block 2 yang mampu menjangkau target berjarak 180 km
  • Peluru kendali darat ke udara MBDA Mistral versi terbaru TETRAL.
Meriam
  • Meriam utama dipasang Oto-Melara 76 mm buatan Italia. Sedangkan kanon ringan tambahan dipasang Auxiliary Gun 2 x 20 mmVector G12
Sensor dan Elekronis
  • Sistem Perang : Thales TACTICOS
  • Radar utama : MW08 3D multibeam surveillance radar
  • Radar senjata : LIROD Mk2 tracking radar
  • Data Link : LINK Y Mk2 datalink system
  • Sonar : Thales Kingklip medium frequency active/passive ASW hull mounted sonar
  • Elektronik Komunikasi : Thales/Signaal FOCON
  • Sistem Pengecoh : TERMA SKWS
  • Platform integrasi utama : Imtech UniMACs 3000 Integrated Bridge System
Tenaga penggerak
  • Kapal ini dilengkapi dua buah mesin diesel V28-33D STC (sequintial turbo charging) diproduksi oleh MAN Diesel (Jerman) berkonfigurasi V 20 silinder. Mesin berkekuatan 8900 kW ini masing-masing menggerakan sebuah baling-baling yang bisa diatur kemiringan bilahnya melalui sebuah gir pengurang putaran satu tingkat. Mesin berbobot 46 ton ini berukuran panjang x lebarx tinggi : 7330 x 2100 x 3180 mm
formasi-tempur-korvet-cla.jpg
(foto: ANTARA)
Daftar kapal perang jenis Korvet Class Sigma yang aktif memperkuat jajaran armada TNI AL diantaranya :
  1. KRI Diponegoro 365
  2. KRI Hasanudin 366
  3. KRI Sultan Iskandar Muda 367
  4. KRI Frans Kaisiepo 368 
 

MRLF NAKHODA RAGAM CLASS INDONESIA



 
Rencana Indonesia membeli 3 Korvet Nakhoda Ragam Brunei Darussalam memang ngeri-ngeri sedap. Ngeri, karena semua calon pembeli akhirnya mengundurkan diri: Vietnam, Aljazair, Irak, Malaysia dan Filiphina. Sedap, karena sistem komunikasi dan senjata korvet Nakhoda Ragam bisa diintegrasikan dengan 4 korvet Sigma milik Indonesia.
Sistem senjata dan elektronik ketiga korvet Brunei lebih hebat daripada korvet Sigma Indonesia. Anti-udaranya telah menggunakan peluru kendali Seawolf. Sementara Sigma Indonesia masih menggunakan Mistral.
Korvet Brunei juga dilengkapi sensor anti kapal selam (Thales Underwater Systems hull-mounted sonar), serta piranti canggih lainnya: Radamec electro-optic weapons director , Thales Sensors Cutlass countermeasures dan Scorpion radar jammer.
7 korvet modern yang bergerak dengan sistem terintegrasi, tentu akan menjadi mesin perang yang mematikan. Belum lagi jika dikombinasikan dengan fregat kelas Van Speijk. Formasi tempur kapal Indonesia akan semakin beragam.

Nakhoda Ragam Class

Ditolak Ramai-ramai
Lalu mengapa korvet Brunei ditolak berbagai negara?
Beberapa pengamat militer Internasional menduga, korvet Nakhoda Ragam memiliki cacat teknis. Korvet dikabarkan bergetar dan agak miring ketika dipacu cukup kencang. Hal ini akibat ukuran kapal yang kecil, namun diisi rudal atau sistem senjata yang besar. Getaran kapal dikhawatirkan mempengaruhi sistem stabilizer senjata, sehingga daya tembak bisa tidak akurat. Ukuran Korvet buatan BAE Systems Surface Ships Inggris ini, nyaris sama dengan Korvet Sigma Indonesia buatan Belanda. Keduanya memiliki panjang kurang-lebih 90 meter dan lebar 13 meter. Daya tampung juga sama, kurang lebih 80 kru.

Nakhoda Ragam

Perbedaan mencolok adalah, Korvet/ Light Frigat Nakhoda Ragam memiliki bobot 1940 ton, sementara korvet sigma lebih ringan, yakni 1692 ton. Bobot yang lebih berat membuat kecepatan jelajah Nakhoda Ragam turun menjadi 22km/jam. Sementara korvet Sigma melaju dengan kecepatan jelajah 33km/jam, untuk jarak 6700 km. Kecepatan Korvet/Light Frigat Nakhoda Ragam yang lambat, membuat bahan bakar dan makanan yang dibutuhkan menjadi lebih banyak. Sementara kapasitas penampungan logistik terbatas.
Untuk itu banyak yang berpendapat daya jelajah (kemampuan melaut mandiri) Nakhoda Ragam, termasuk pendek dibandingkan kapal sekelasnya (Ocean Patrol Vesel/ Frigate). Korvet Nakhoda Ragam yang mampu mengangkut satu helikopter, dianggap terlalu dipaksakan untuk menjadi Light Frigat. Berbeda dengan Sigma Indonesia yang memang didisain untuk kelas korvet.
BAE Systems Surface Ships Inggris akhirnya menyadari “pemaksaan” model kapal tersebut, dengan memunculkan varian baru Light Frigate Lekiu Class Milik Malaysia. Panjang kapal bertambah menjadi 106 meter (Nakhoda Ragam 90 meter). Kapal varian baru juga memiliki hanggar helikopter dan bisa dipacu stabil pada kecepatan 52 km/jam untuk jarak 5000 km.

Light Frigate Nakhoda Ragam Class dipaksakan ?

Persenjataan
Namun jika dilihat dari jenis persenjataan dan sistem elektroniknya, Light Frigate Nakhoda Ragam sangat siap untuk bertempur.
Persenjataan yang diusung:
• 2 x 4 MBDA Exocet MM40 Block II missile launcher.
• MBDA Seawolf surface-to-air missile.
• 1 x Oto Melara 76mm gun.
• 2 x MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns
• 2 x 3 324mm torpedo tubes BAE Systems.
• Thales Sensors Cutlass 242 countermeasures. Rudal Exocet MM40 Block II (tenaga roket) bisa dikonversi menjadi Block III (tenaga jet), sehingga jangkuannya mencapai 180 km, dibandingkan Block II hanya 75 km.
Radar dan Alat Sensor:
• Radamec 2500 electro-optic weapons director.
• Thales Underwater Systems TMS 4130C1 hull-mounted sonar.
• BAE Sys Insyte AWS-9 3D E & F-band air & surface radar.
• BAE Insyte 1802SW I/J-band radar trackers.
• Kelvin Hughes Type 1007 navigation radar.
• Thales Nederland Scout radar for surface search.
• 1 Helikopter sekelas S-70B Seahawk

Seawolf TLDM KD JEBAT dan Nakhoda Ragam

Korvet Nakhoda Ragam telah dilengkapi Nautis II command and weapons control. Nautis II merupakan piranti multifungsi untuk berhadapan dengan ancaman: udara, permukaan dan laut. Data/ informasi disuplai oleh berbagai sensor dan sistem senjata, untuk dimunculkan ke War-Room, seperti navigasi, target tracking, ancaman, alokasi senjata dan weapons control functions. Kemampuan kapal ini hampir sama dengan Light Frigate Lekiu Class Malaysia. Hanya saja Lekiu memiliki hanggar helikopter.

KD Jebat - Fregat Lekiu Class Malaysia

Yang menjadi persoalan, apakah TNI mau berjudi, membeli kapal perang yang ditolak berbagai negara tersebut ? Indonesia memang ditempatkan pada situasi yang tidak memiliki banyak pilihan. Ambang batas minimum persenjataan memang harus dipenuhi. Dan TNI telah menetapkan standar Minimum Essential Force (MEF) yang harus dicapai pada tahun 2014. Sementara program korvet nasional yang dicanangkan sejak tahun 2002, belum juga terwujud hingga tahun 2012.
Ada gap antara kualitas KRI sekarang dengan target modernisasi yang harus dicapai. Untuk menutupi gap tersebut, TNI AL berharap bisa mengakusisi Light Frigate Nakhoda Ragam milik Brunei Darussalam.
Situasi inilah yang disampaikan pihak TNI dan Kementerian Pertahanan saat rapat kerja dengan komisi I DPR. Hasilnya, Komisi I DPR akhirnya mengendurkan tekanannya dalam menolak pembelian 3 fregat buatan Inggris yang diajukan Departemen Pertahanan. “Menurut saya harganya murah sekali. Tapi pada intinya kita upayakan harganya lebih murah,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR, Hayono Isman. Rencananya Light Fregat Inggris tersebut akan dibeli seharga 300 juta USD.
Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin mengaku, DPR membentuk tim independen untuk memeriksa kelayakan 3 Light Frigate yang dibeli Brunei tahun 202 tersebut. DPR ingin memastikan harga pembelian ditambah biaya retrofit dan upgrade senjata, masih lebih murah jika dibandingkan dengan pembelian frigat baru.

Nakhoda Ragam Class

Ketiga Light Frigate Nakhoda Ragam dihargai 300 juta USD, belum termasuk retrofit karena sudah 10 tahun bersandar di galangan kapal Lursen Jerman. Sementara saat membeli 4 korvet Sigma dari Belanda, Indonesia harus mengucurkan 680 juta USD. Kalaupun TNI jadi membeli 3 Nakhoda Ragam Class, harus benar-benar diperhatikan retrofit dan repoweringnya, untuk memastikan light frigate tersebut benar benar siap bertempur dalam perang modern.

PKR 10514

  FRIGAT PKR SIGMA 10514 INDONESIA
      

                                                                   PKR 10514
Departemen Pertahanan Indonesia dan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda hari ini menandatangani kontrak untuk rekayasa, membangun dan pengiriman Frigate 10514 Rudal SIGMA Terpimpin PKR - Perusak Kawal rudal.

PKR itu akan dibangun untuk Angkatan Laut Indonesia, TNI AL, dan akan diserahkan tahun 2016.

Akuisisi kapal ini merupakan bagian dari modernisasi dan ekspansi dari Angkatan Laut Indonesia, TNI-AL.

Misi utama dan tugas PKR SIGMA 10514 akan berada di domain perang angkatan laut serta misi Keamanan Laut dan tugas. Juga, kapal dapat digunakan untuk tugas-tugas bantuan kemanusiaan.
Kemhan RI tandatangani kontrak  pengadaan 1 unit kapal PKR 10514
Jakarta - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) melalui Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) secara resmi menandatangani kontrak pengadaan 1 unit Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda. 

Kontrak ditandatangani oleh Kepala Baranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo yang mewakili Kemhan RI dengan Director Naval Sale of DSNS Evert van den Broek yang dalam hal ini mewakili pihak DSNS, Selasa (5/6) di kantor Kemhan, Jakarta. Hadir dan menyaksikan acara penandatangan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AL. Hadir pula Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan dan Direktur Utama PT.PAL Indonesia (Persero) Ir M Firmansyah Arfin. 

Pengadaan Kapal PKR 10514 ini dalam rangka untuk memperkuat Alutsista di jajaran TNI AL guna mendukung tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI. Disamping digunakan untuk tugas – tugas tempur, Kapal PKR 10514 ini juga diperlukan untuk memberikan deterrent effect (efek gentar) terhadap pihak manapun yang akan mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.
Kabaranahan Kemhan RI mengatakan, dalam pembangunan Kapal PKR 10514 ini, Damen Schelde Naval Shipbuilding melakukan joint production (kerjasama produksi) dengan PT. PAL Indonesia (Persero) selaku industri pertahanan dalam negeri. Damen Schelde Naval Shipbuilding telah memutuskan untuk memberikan Transfer of Technology (ToT) dalam konstruksi desain dan pembangunan Kapal PKR 10514 kepada PT. PAL Indonesia (Persero). 

Rencananya, Kapal PKR 10514 ini akan dibangun di tiga tempat antara lain PT. PAL Indonesia (Persero), Vlisingen dan Galatz. Terakhir Kapal PKR 10514 akan dirakit di PT.PAL Indonesia (Persero). Diharapkan, Kapal PKR 10514 ini sudah selesai dan diserahterimakan pada awal tahun 2017. 

Lebih lanjut Kabaranahan mengatakan, ini adalah awal yang baik dari industri pertahanan dalam negeri khususnya PT. PAL Indonesia (Persero) dalam mengembangkan kemandirian di bidang Alutsista. Hal Ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemhan RI melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang akan melaksanakan rencana induk revitalisasi industri pertahanan dalam rangka mendorong dan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri. 

Sementara itu, guna mendukung pengadaan Kapal PKR 10514 ini, Kabaranahan Kemhan RI mengungkapkan pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran kredit eksport dengan alokasi multiyears dengan jumlah 220 juta dolar AS.(BDI/SR)K
Karakteristik utama PKR sigma 10514
Harga/Unit : USD 220.000.000,00
Waktu Penyelesaian 49 bulan
Panjang : 105 meter
Lebar : 14 meter
Tinggi : 3,7 meter 
Berat :  2400 ton
Kecepatan : 28/18/14 knot
Jarak Jelajah : 5000 NM (kec 14/18 knot) selama 20 hari
Awak : 100 dan 20 akomodasi cadangan
Kemampuan Jelajah di laut sampai Sea State 5
Helipad : 1 unit dengan maksimum berat 10 ton

Kapasitas Tank
Bahan bakar : 300 ton
Air Bersih : 60 ton
Sistem persenjataan Propulsion System
Main Engine 2 x Diesel Engine, 2 x E Drive (CODOE)
Diesel Generator
 
4 x 715 kw
2 x 435 kw
Gear Box CODOE, Heavy Duty

Sistem Persenjataan
 :
- Anti serangan Udara
- Anti serangan Kapal Selam
- Anti serangan Kapal Atas Air

Kapal akan dibangun sesuai dengan strategi bangunan model modular SIGMA, seperti ke empat Korvet sebelumnya yang dibangun untuk TNI AL. Ini berarti bahwa modul fregat akan dibangun di Eropa dan di PT PAL di Surabaya, Indonesia. Perakitan dan uji coba SIGMA 10514 PKR akan berlangsung di Surabaya, Indonesia

KRI AHMAD YANI CLASS

  • Diproduksi oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Vlissingen, Belanda
  • Mulai dibuat 1967
  • Dibeli 1986 oleh TNI Angkatan Laut
  • Nama sebelumnya HNLMS Van Nes (F805)
  • Status Masih bertugas
  • Pelabuhan utama Armada Timur TNI-AL
KARAKTERISTIK UMUM
  • Berat benaman : 2.940 ton
  • Panjang : 113 m
  • Lebar : 12.51 m
  • Draft : 4.57 m
  • Tenaga penggerak : 2 boiler, 2 shaft @30,000 shp
  • Kecepata : 28,5 knot
  • Awak kapal : 180 orang
SONAR DAN RADAR
  • Radar LW-03 2-D air search dan sonar PHS-32
kri-owa354.jpg
kri OWA354 sedang menembakan peluru kendali yakhont dari rusia
KRI Oswald Siahaan dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
  • 2 buah peluncur rudal yakhont
  • 2x4 - Rudal Darat ke Udara mistral dengan sistem peluncur simbad
  • 1 Pucuk Meriam - OTO-Melara Compact Kaliber 76 mm ;dgn kecepatan tembakan 85 peluru per menit
  • 2x2 - Rudal anti Kapal perang C-802 - berpemandu inertial/GPS dan terminal active radar
  • 4 x Torpedo Honeywell Mk 46 Kaliber 533 mm berkemampuan SUT (Surface & Underwater Target)
  • 2 x Senapan Mesin Berat browning kaliber 12,7 mm
SENSOR DAN ELEKTRONIS
KRI Oswald Siahaan diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL. PENERBANGAN
Memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS 1 (kini pensiun) dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Mungkin kini diganti dengan NBO-105 atau NAS 332L Super Puma. OPERASI
KRI Oswald Siahaan turut berperan dalam mengamankan perairan Republik Indonesia dalam konflik Ambalat dengan Malaysia. kapal perang fregat kelas ahmad yani lainya :