Tampilkan postingan dengan label PANSER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PANSER. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juni 2013

PANSER TARANTULA INDONESIA

Doosan DST Korea Selatan akhirnya menyelesaikan produksi Panser Tarantula berbobot 18 ton yang dilengkapi canon 90 mm serta senjata mesin 7,62mm/ 12,7mm. Panser Tarantula (Korsel: Black Fox) merupakan kendaraan tempur beroda 6 yang dioperasikan tiga orang (sopir, kkomandan, petembak) yang melaju dengan kecepatan maksimal 100 km/jam serta 8 km/jam di dalam air.

Menurut Doosan DST, Panser Tarantula telah disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia, sehingga dibuat lebih ringan dan memiliki kemampuan amphibi. Dengan senjata meriam 90mm dan senapan mesin, Tarantula didisain untuk bisa menyerang lawan yang memiliki kemampuan penuh ataupun bertempur dengan tank musuh. Panser ini juga memiliki kemampuan operasi gerilya: search and destroy.
Chasis Black Fox dengan turret CSE90 Belgia
Chasis Black Fox dengan turret CSE90 Belgia
tarantula2
Blackfox / Tarantula versi APC
Blackfox / Tarantula versi APC

Tahun 2009, TNI AD memesan Panser Canon Tarantula ke Doosan DST Korea Selatan. Panser 6×6 ini memasuki tes operasional, uji menembak dan uji manuver lapangan sejak November 2011. Setelah lulus inspeksi, panser mulai diproduksi Korea Selatan pada awal tahun 2012. Tanggal 5 Mei 2013, Doosan DST mengumumkan telah menyelesaikan produksinya untuk dikirim ke Indonesia.

Tanpa menyebutkan jumlahnya, pihak Cmenyatakan segera mengirim sejumlah Panser Tarantula ke Angkatan Darat Indonesia. Dalam pembuatan panser ini Doosan DST bertanggung jawab membangun panser dan pemasangan turret meriam. PT Pindad juga akan melakukan perakitan semi-knocked-down (SKD) di Indonesia. Menurut catatan SIPRI 2012, Indonesia memesan 22 Black Fox/ Tarantula ke Korea Selatan dan 11 diantaranya akan dirakit di Indonesia.

Masih menurut SIPRI 2012, turret dari Panser Tarantula adalah CSE 90 mm buatan CMI Defence Belgia. Turret ini mengusung meriam Cockerill MkIII 90 mm, senjata mesin 7,62mm / 12,7mm serta pelontar granat. Meriam utama dikendalikan secara elektronik dan mampu menembak sasaran di malam hari. CSE90 mm dilengkapi penjejak laser jarak jauh untuk menembakkan amunisi APFSDS-T, serta berbagai jenis amunisi lainnya.
Defence-Cockerill-CSE-90LP-01
Dengan munculnya informasi dari Doosan DST Korea Selatan ini, menunjukkan road map kendaraan tempur TNI semakin jelas. Setelah Panser Anoa, akan muncul Panser Canon Tarantula lalu disusul Tank Kerjasama FNSS Turki dan PT Pindad.
Indonesia merupakan pengguna pertama Panser Canon Tarantula Korea Selatan, sehingga belum diketahui sejauh apa ketangguhan dari Panser ini. Diharapkan Indonesia bisa mengembangkan disain dan kualitas panser ini, karena TNI AD hanya memesan 22 Panser Tarantula.
Sumber : JKGR

Minggu, 02 Juni 2013

BTR-50 INDONESIA

BTR-50 adalah salah satu alutsista (alat utama sistem senjata) milik TNI-AL yang sudah berusia lanjut alias paruh baya. Umur panser amfibi (pansam) ini bila ditakar memang cukup sepuh, sebab sudah beroperasi di Tanah Air sejak 1962. Pansam BTR-50 dibeli dari Uni Soviet bersamaan dengan tank amfibi legendaris Marinir, yakni PT-76. Kedua alat tempur ini memang di impor dalam menyongsong operasi Trikora. Di negeri asalnya, BTR-50 mulai beroperasi sejak 1955.
Meski sudah berusia 48 tahun, BTR-50 hingga kini tetap masih dioperasikan dengan dilakukan retrofit pada spare part yang sering mengalami keausan akibat pengunaan antara lain hull/body Arm & wheel hub, Track idler, Hub Idler, Rear, Shock Absorber, Superior Whee, Sprocket, Wheel, Track, Suspension, Front Shock Absorber melalui kerjasama antara Balitbang Dephan dengan PT. Pindad. Selain retrofit BTR-50 kini juga dilengkapi instrumen tambahan seperti alat pemadam kebakaran, sistem elektrik, alat pangtur suhu, alat kombinasi antar bagian, GPS (Global Positioning System), dan night google vision.
BTR-50 P (Browne Transporter 50 Palawa) punya kiprah panjang dalam sejarah operasi militer di Tanah Air. Beragam operasi amfibi sudah dilalui, seperti operasi Seroja di Timor Timur sampai operasi pendaratan menumpas GAM di Aceh. Karena usia yang tua, pansam ini kerap dituding sebagai penhantar maut bagi para awaknya. Setidaknya sudah 2 kali BTR-50 mengalami kecelakaan di laut, pertama saat operasi pendaratan amfibi saat operasi Seroja di tahun 70-an. Dan yang kedua saat Latihan Armada Jaya XXVII. Sebuah BTR 50 P yang mengangkut 15 prajurit marinir tenggelam di pantai Tanjung Jangkar di kedalaman 30 meter setelah bergerak menuju pantai 1300 meter dari KRI Teluk Kau-504. Bagian buritan pansam ini bergoyang dan tergulung ombak sehingga tenggelam. Sebanyak 8 prajurit Marinir selamat dan tujuh prajurit lainnya meninggal dunia.
Pansam BTR-50 P merupakan andalan jajaran kavaleri Korps Marinir TNI AL, malah terlihat lebih dianndalkan ketimbang tank amfibi AMX-10 yang usianya jauh lebih muda dan modern. Panser ini berbobot 15 ton dan pada tahun 1990-an telah mengalami modernisasi pada sistem penggerak, sistem senjata, dan sistem sensor. Modernisasi sistem penggerak berupa pergantian mesin yang berbobot lebih ringan namun bertenaga lebih besar dari mesin aslinya. Sistem senjata berupa penambahan dudukan senapan mesin ringan untuk menjamin perlindungan bagi prajurit yang keluar dari panser.
Pada umumnya BTR-50 berasal dari dua Negara yaitu BTR-50 P Rusia dan BTR-50 PK Ukraina. Untuk mengamankan NKRI BTR yang ada dilingkungan Marinir berjumlah 82 unit. Awalnya, kabin berkapasitas 20 orang pasukan bersenjata lengkap tak punya penutup atas. Baru pada tahun 1960 dengan alasan guna mendongkrak proteksi penumpang maka varian BTR-50 PK dilengkapi tutup kabin (hatch). Varian terakhir inilah yang sampai sekarang dipakai Korps Marinir TNI-AL.
BTR-50 berkapasitas solar penuh (full tank) sekitar 260 liter dan memiliki kemampuan melakukan penjelajahan 260 km. Satu liter solar, mampu mendorong sejauh 1 km dengan kecepatan 44 Km per jam. Itu kalau berada di jalan raya. Sedangkan di medan off-road, kecepatannya 25 Km per jam. Sedang di laut pansam ini mengandalkan dua unit water-jet. Kedua piranti ini sanggup menghela badan ranpur dengan kecepatan 10 Km per jam. Uniknya, kendaraan ini bisa juga berenang mundur pada kecepatan 5 Km per jam. Selain itu BTR-50 mampu menerjang ombak berketinggian maksimal 1,5 meter.
Saat ini dalam tiap operasi, BTR-50 memuat 16 orang personel, ditambah tiga orang kru. Ketiga kru tersebut adalah komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak. Selain itu, juga dilengkapi oleh dua jenis senjata. Sayangnya, kendaraan ini tidak ada AC-nya. Untuk memperpanjang usia pakainya, BTR-50 tak lagi mengandalkan komponen orisinilnya. Sebab, pasca Peristiwa G-30S, suku cadang mendadak jadi langka. Alhasil perombakan lumayan besar diterapkan pada jeroan BTR 50. Menu utama perombakan adalah soal dapur pacu. Mesin diesel yang tadinya tipe V 6 asli Rusia, diganti dengan GM 6V-92T diesel keluaran AS.
Selain di Indonesia dan Rusia, BTR-50 juga banyak dipakai negara-negara eks blok Timur. Cina bahkan memproduksi versi lain dari BTR-50. Meski kodratnya sebagai kendaraan amfibi, BTR-50 juga aktif berperang di medan gurun pasir. Hal ini terbukti saat Mesir melancarkan perang Yom Kippur melawan Israel. BTR-50 aktif digunakan militer Mesir untuk melakukan operasi penyeberangan pasukan.
Spesifikasi
- Crew : 2+20
- Armamament : 1 x 7.62 mm machine gun
- Ammunition : 1,250 x 7.62mm
- Length : 7.08 m
- Width : 3.14 m
- Height : 1.97 m
- Weight : 14,200kg
- Engine : Model 6-cylinder in line water cooled diesel developing 240 hp at 1,800 rpm
- Max Road Speed : 44 kmh


BTR-80 INDONESIA

BTR-80 dibuat oleh Arzamas machinery Construction Plant, Nizhny Novgorod, Rusia, dirancang untuk membawa personil dimedan tempur dan memberikan dukungan tembakan jarak dekat. Juga untuk melakukan pengintaian, dukungan tempur dan misi patroli. Mulai digunakan AD Rusia akhir 1980an dan telah teruji diberbagai pertempuran, termasuk misi perdamaian PBB.
BTR-80 adalah pengangkut personel lapis baja beroda 8×8 yang dirancang Uni Soviet. Produksi dimulai pada tahun 1986, untuk menggantikan versi-versi sebelumnya, yaitu BTR-60 dan BTR-70. Soviet merancang BTR-80 berdasarkan BTR-70. Kendaraan ini menggunakan mesin diesel V-8 turbo 260-hp.
Korps Marinir TNI-AL mengakusisi 12 BTR-80A. Kendaraan baja tersebut bertugas dengan Detasemen Kavaleri di dalam Brigade Marinir I. BTR-80 Indonesia dipersenjatai dengan senapan mesin 14.5 mm dan 7.62 mm.
BTR-80A memiliki daya angkut sepuluh orang, terdiri komandan, pengemudi, penembak, serta tujuh orang pasukan. Persenjataan di antaranya dilengkapi fasilitas perlindungan serangan senjata NBC (nuklir, biologi, kimia), sistem penembakan otomatis senjatanya, serta sistem kamuflase.
Persenjataan standar terdiri mitraliur 2A72 (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit, yang dapat menembus baja tipis), senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru, jarak tembak 1.500 m), serta enam pelontar granat asap.
Varian dan Pengembangan
Beberapa pengembangan dari BTR-80, antara lain, BREM-K Ran Harkan; BMM versi ambulan; RkhM-4-01 Ran Intai anti-radiasi dan Nubika; dan 2S23 Nona SVK 120mm self-propelled gun, yang mulai digunakan AD Rusia sejak 1990.
Versi yang lebih besar adalah BTR-90 dengan peningkatan proteksi lapis baja, dilengkapi dengan persenjataan kanon otomatis 2A42 kaliber 30mm dengan kemampuan membawa sista rudal anti- tank Konkurs.
Bulan Juli 2005, perusahaan Polandia, Bumar, mendapat kontrak dari pemerintah Irak untuk memasok 115 unit BTR-80 APC rekondisi, ex-AD Hongaria untuk pengiriman 2006. Bangladesh juga memesan tambahan dari Rusia 60 unit BTR-80 APC untuk misi perdamaian PBB.
BTR-80 Amfibi
BTR-80 sepenuhnya adalah ranpur amfibi. Pada bagian kabin terdapat tujuh ball-swivel firing ports, empat pada sisi kanan dan tiga pada sisi kiri, sama halnya dengan port diatas hatches dari kompartemen penembakan. Hatches memiliki pintu lapis baja pada kedua sisi kendaraan. Kendaraan ini juga memiliki perlindungan Nubika, system pemadam kebakaran otomatis, perlengkapan penyamaran, pompa bilge dan winch self- recovery.
Persenjataan
BTR-80 dipersenjatai dengan kubah senapan mesin BPU-1, untuk senjata KPTV kaliber 14.5mm dan Senapan mesin coaxial PKT kaliber 7.62mm. Kubah dapat berputar 360° dengan sudut elevasi 60° guna melakukan pertahanan udara.
Jarak tembak senjata sekitar 2km, dan jarak tembak kaliber 7.62mm sejauh 1.5km. Amunisi yang dapat dibawa 500 butir untuk KPVT dan 2.000 butir untuk PKT. Enam pelontar granat asap masing-masing tiga per sisi senjata utama.
SPESIFIKASI
Jumlah awak 10 (3+7)
Bobot: 13,600 kg +3%
Power-to-weight ratio: 19.1 hp/t
Mesin Disel 7403 four-stroke 8-cylinder, liquid cooled, 260 hp
Roda: pneumatic, tubeless
Suspensi independent on traverse levers
Panjang keseluruhan 7.65 m
Lebar 2.9 m
Tinggi 2.35 m
Jejak roda 2.41 m
Clearance 475 mm
Radius berputar kendaraan 13.2 m
Kecepatan maksimum di jalan raya: 80 km/jam
Kecepatan maksimum di medan sulit 20 – 40 km/hour
Amphibi 9 km/hour
Jarak tempuh di jalan raya: 600 km
Jarak tempuh medan sulit 200 – 500 km
Jarak tempuh ampibi 12 hours
Kemiringan menanjak 30 derajat
Kemiringan menyamping 25 derajat
Halangan vertical 0.5 m
Halangan parit 2 m

BTR-40 INDONESIA

BTR-40 adalah APC pertama yang dibuat oleh Uni Soviet setelah Perang Dunia II selesai. Mulai dirancang pada tahun 1947, kendaraan pengangkut personel ini diproduksi pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1960 dengan jumlah produksi mencapat sekitar 8.500 unit. BTR-40 tercatat pernah digunakan oleh setidaknya 40 negara dan saat ini sekitar 20 negara, termasuk Indonesia, masih menggunakan kendaraan lapis baja sebagai bagian dari kekuatan militer mereka.
Kendaraan pengangkut personel ini pada dasarnya adalah truk GAZ-63 yang dimodifikasi dengan diberi lapisan baja setebal 6-8mm. BTR-40 diawaki oleh dua orang dan bisa mengangkut antara enam sampai dengan delapan orang personel. Selain sebagai APC, BTR-40 sering pula difungsikan sebagai kendaraan intai. Panser ini dipersenjatai antara satu sampai dengan tiga pucuk senapan mesin SGMB kaliber 7,62mm. Beberapa konflik bersenjata yang melibatkan BTR-40 antara lain Perang Vietnam, Perang Enam Hari tahun 1967, Perang Yom Kippur tahun 1973, dan operasi militer TNI/Polri di Aceh.

Specification 
Crew : 2 + 8
Armament :
Main : 1 or 3 x 7.62mm machine guns
Combat weight : 5,300 kg
Length : 5.00 m
Width : 1.90 m 
Height : 2.20 m
Powerpack : 80 hp GAZ-40 petrol engine
Maximum road speed : 80 km/h
Range : 430 km

PANSER P2 APC INDONESIA

Jika dilihat dari luar, tidak ada yang menyangka pabrik berukuran sekitar 10 x 25 meter itu telah menghasilkan mobil perang yang telag diekspor hingga ke Srilangka. Dari luar, hanya terlihat gerbang besi setinggi dua meter menutupi aktifitas karyawan di dalamnya. Namun saat masuk ke dalam, terlihat jejeran panser dan kendaraan tempur lainnya siap dijalankan. Produk terbaru yang telah diekspor ke luar negeri oleh perusahaan ini adalah P2 Armored Personnel Carrier (APC), sebuah kendaraan lapis baja ringan.
“Beberapa waktu lalu kami mengirimkan lima unit P2 APC ke Srilangka untuk digunakan oleh Special Task Force Police Srilangka,” ujar Gatot Kalbuadi, Direktur PT Sentra Surya Ekajaya. P2 APC adalah sebuah kendaraan lapis baja ringan yang didesain untuk membawa pasukan yang akan melakukan misi penyerangan. Menurut Gatot, pasnser ini memiliki mobilitas yang tinggi, serta memiliki teknologi tingkat atas dan sistem persenjataan yang lengkap.
Ada sensasi tersendiri saat duduk di belakang kemudi kendaraan tersebut. Dengan mesin diesel enam silinder segaris kapasitas 4.200 cc dilengkapi turbo buatan Toyota, kendaraan perang ini sangat asyik dibawa ngebut.
Monde dibuat terkejut dengan akselerasi kendaraan ini . Kecepatan puncak kendaraan ini cukup lumayan. Sekali geber, bisa melaju hingga 150 km/jam dan bisa mencapai kecepatan 100 km per jam (dari keadaan diam) dalam waktu 15 detik.
Pengoperasiannya pun terbilang mudah, karena menggunakan transmisi otomatis. Hanya saja kemudi kendaraan agak keras sehingga perlu keahlian khusus untuk bermanuver di medan perang.
Layaknya sebuah kendaraan perang, P3 APC memiliki kaca anti peluru dengan ketebalan 36 mm atau 14 cm. Sementara untuk rangka, kendaraan ini menggunakan baja ringan setebal 7 mm yang diimpor langsung dari Swedia.
“Sebenarnya kami ingin menggunakan lebih banyak komponen lokal, termasuk baja yang dipakai untuk rangka. Sayangnya PT Krakatau Steel belum mampu menyediakan baja yang kami minta,” kata Gatot.
Untuk kelas sejenis, menurut Gatot, P3 APC belum memiliki saingan. “Baru pabrik mobil Renault di Perancis yang bikin seperti gini. Tapi kelasnya juga lebih kecil,” ujar pria yang mengaku pernah berbisnis jalan tol itu.
P3 APC memang dirancang sebagai kendaraan yang tahan gempuran peluru. Namun kalau dilihat penggunaan baja ringannya, Monde sangat khawatir jika harus menumpanginya di pertempuran. Sumber kami di kalangan Kopassus bahkan langsung tertawa melihat spesifikasi kendaraan tempur ini. “Paling penyok kalau ditembak dengan kaliber 5,56 mm. Dengan catatan nembaknya dari jarak dua kilometer!”. Sang sumber yang makan asam garam di beragam palagan itu menuturkan. Dengan ketebalan hanya 7 mm sudah pasti APC ini bakal jadi saringan tahu ketika berhadapan dengan pelor ukuran 5,56 mm jenis full metal jacket. Tapi pendapat sang mantan anggota Kopassus itu ditampik Gatot menurutnya kendaraan ini telah mendapatkan uji balistik oleh Dephan. Ketika itu P2 APC tahan digempur peluru 5,56 hingga 7,62 mm dari jarak 20-30 meter.
Jadi dengan konfigurasi ini panser sangat aman jika hanya digunakan untuk melaju menembus hujan batu para demonstran. Kelebihan yang lain ada pada penggunaan ban jenis run flat. Ban dengan teknologi Run Flat Tyre Protection System bisa melaju kencang karena di dalam bannya dilapisi dengan pelindung alumuniun, sehingga ban meski bocor masih bisa melaju. Keistimewaan lain dari panser ini adalah cat yang anti infra red. “Jadi jika berjalan di malam hari, kendaraan ini tidak akan terdeteksi musuh yang menggunakan teropong infra red,” jelas Gatot. Sensasi lain dari P3 APC adalah penggunaan mesin 4200 cc yang memiliki peredam mumpuni sehingga tidak berisik. Suara mesinnya termasuk halus untuk ukuran mesin perang. Jika untuk patroli, P3 Ransus dengan kondisi full tank bisa menempuh jarak hingga 500 kilometer. Beberapa komponen kendaraan ini murni produk dalam negeri yang menggunakan komponen lokal, seperti gardan, pelek, serta portal.
Dengan harga sekitar Rp 3 miliar – Rp 4 miliar, P3 APC sangat nyaman dikendarai. Walaupun dibungkus baja tebal, saat 10 personil plus supir dan asistennya masuk ke dalamnya udara taka akan gerah karena adanya pendingin udara. Selain itu di kokpitnya, pengendara disuguhi layar LCD yang bisa menampilkan posisi panser di jalanan lewat pantauan penjejak posisi (GPS). Untuk penumpang, joknya bisa disetel menghadap atau membelakangi jendela. Saat ini PT Sentra Surya Ekajaya yang memproduksi P2 APC yang berada di depan sebuah restoran soto itu memiliki karyawan sekitar 50 orang, dan memiliki kapasitas produksi sekitar 30 unit per tahun.  “Beberapa waktu lalu angkatan bersenjata India juga sudah menghubungi kami untuk menggunakan kendaraan ini di perbatasan Nepal,” tandasnya.
 
Spesifikasi Teknis P2 APC :
- Kapasitas : 10 orang
- Konfigurasi : 4 x 4
- Panjang : 4.750 mm
- Lebar : 2.064 mm
- Tinggi : 2.010 mm
- Turning radius : 9.000 mm
- Berat : 5590 kg
- Berat (Dengan Senjata) : 6.600 mm
- Mesin : Turbo diesel 6 silinder
- Daya Mesin : 165 tenaga kuda
- Suspensi : Coil Spring
- Transmisi : Manual / Otomatis
- Sistem Rem : rem cakram (depan dan belakang)
- Max Road Speed : 100 km/jam
- Kaca : anti peluru 36 mm
- AC : Double Blower
 
 

PANSER PANHARD VBL INDONESIA

Sekedar buat unjuk gigi alias show of force, pada kediaman presiden dan wapres lumrah ditempatkan alutsista TNI-AD berupa kendaraan lapis baja dari jenis panser. Apalagi saat musim demonstrasi, hadirnya panser lumayan ampuh sebagai unsur penggetar bagi demonstran yang berniat rusuh. Salah satunya dibuktikan dari penempatan panser ringan jenis Panhard VBL 4×4. Panser model jip ini disiapkan secara khusus saat kediaman wapres Boediono di Yogyakarta yang sempat didatangi para demonstran. Menurut pemberitaan, ada 2 panser VBL yang menjaga kediaman Boediono yang berasal dari Yon Kav Serbu 2 Kodam IV Diponegoro.
Panhard VBL termasuk alutsista anyar yang dibeli dari Perancis. Performa panser ini terbilang sangat baik dalam berbagai medan pertempuran. Setidaknya kini ada 17 negara yang mengoperasikan VBL, termasuk Indonesia kabarnya yang membeli sejumlah 18 unit Panhard VBL. Meski jumlah yang dimiliki Indonesia sangat sedikit, panser ini ikut serta dalam misi batalyon mekanis PBB di Lebanon.
Bagi TNI khususnya TNI AD sangat familiar dengan kendaraan satu ini, Kendaraan yang masuk dalam kategori “Light armoured vehicle” alias kendaraan lapis baja ringan ini mampu digunakan dalam berbagai misi sehingga berbagai varian pun di munculkan oleh produsennya yaitu ; SociĂ©tĂ© de Constructions MĂ©caniques Panhard et Levassor yang berlokasi di Paris Perancis. Walaupun mempunyai berbagai varian hingga kurang lebih 10 varian termasuk diantaranya versi ekspor, namun pada dasarnya Panhard VBL berasal dari dua versi dasar yaitu Panhard VBL versi kendaraan tempur anti tank yang di awaki oleh 3 personel dan di persenjatai dengan senapan mesin kaliber 7.62 mm dan versi Panhard VBL untuk intelijen atau kendaraan intai yang di awaki 2 personel dan dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber 7.62mm serta senapan mesin kaliber 12.7 mm.
Dengan menggunakan mesin diesel 4 silinder turbocharged Peugeot XD3T yang mampu menghasilkan tenaga 105hp, Panhard VBL mampu melaju hingga kecepatan maksimum 95km/jam dengan daya jelajah yang dapat di tempuh 600km, kendaraan yang mempunyai berat total 3.590kg ini mampu dikirim ke berbagai tempat dengan menggunakan alat angkut udara. Salah satu keistimewaan dari Panhard VBL hingga banyak di gunakan oleh berbagai negara adalah, kemampuannya berenang di permukaan air, ini dimungkinkan karena Panhard VBL dilengkapi juga dengan baling-baling tunggal yang di pasang di bagian belakang bodinya, daya dorong baling-baling tersebut mampu membuat Panhard VBL berenang hingga kecepatan 4.5 km/jam.
Spesifikasi Panhard VBL
Berat 3,5 sampai 4 ton
Panjang 3,80 m (4.00 m long version)
Lebar 2,02 m
Tinggi 1,70 m
Awak 2-3
Senjata terganung versi
Mesin Peugeot XD3T turbo-diesel
hp ( kW)
Suspensi 0,35 m ground clearance
Jarak Tempuh 600 km (can be extende

PANSER ALVIS STORMER INDONESIA

Indonesia bisa dibilang telah menjadi pelanggan setia produk militer besutan Alvis. Sejak dekade tahun 60-an, beragam alat tempur kavaleri TNI-AD didatangkan, salah satunya berasal dari Inggris. Alvis menjadi pemasok yang cukup strategis, produsen alat tempur asal Inggris ini telah memasok beragam tipe panser, seperti Ferret, Saracen, dan Saladin. Walau telah berusia lebih dari 50 tahun, ketiga panser tadi masih operasional lewat program upgrade.
Memasuki era 90-an, TNI-AD kembali kedatangan alat tempur besutan Alvis. Yakni tank ringan Scorpion dan tank APC (armored personel carrier) Stormer, kedua tank ini didatangkan pada medio tahun 1997 hingga 1999. Hadirnya Scorpion dan Stormer memang disiapkan sebagai arsenal kaveleri utama, dimana andalan TNI-AD sebelumnya yakni tank AMX-13 kanon 75 mm dan AMX-13 VCI/APC sudah dianggap terlalu tua untuk dijadikan andalan, meski varian AMX-13 sudah di upgrade total oleh TNI-AD dan hingga kini masih memperkuat beberapa batalyon kaveleri.
Menurut informasi dari lembaga riset ADF, Indonesia setidaknya memiliki 40 unit Stormer dari beragam versi. TNI-AD diketahui memiliki versi tank jembatan (bridge layer), recovery vehicle, ambulance, logistic vehicle, dan versi commando. Sedangkan masih ada beberapa versi yang tak dimiliki oleh TNI-AD, seperti versi penyapu ranjau (mine layers), air defence dengan rudal atau kanon 30 mm, dan versi pelontar mortir 81/120 mm. Pada versi commando yang dimiliki TNI-AD, Stormer sebatas dilengkapi senjata berupa kanon 12,7 mm dan 7,62 mm.
Stormer mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya mampu mendukung proteksi personel pada kondisi perang NBK (nuklir, biologi, dan kimia) lewat penambahan perangkat khusus. Stormer dilengkapi pula dengan passive night-vision equipment. Walaupun sejatinya Stormer bukan tank amfibi, tank ringan ini dilengkapi dengan amphibious kit untuk melaju di air secara terbatas.
Penampilan Stormer versi Commando dalam sebuah defile di Surabaya
Stormer adalah tank angkut personel yang sangat ideal untuk kondisi geografis di Indonesia. Hal ini terlihat dari bobotnya yang hanya 12,7 ton. Mobilitas Stormer pun terbilang tinggi, tank dengan 2 kru dan kapasitas angkut pasukan 12 personil ini dapat diangkut dengan mudah oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules. Sebuah Hercules dapat memuat 1 unit Stormer.
Di lingkungan TNI-AD, Stormer disiapkan dalam satu paket gelaran dengan tank Scorpion. Penempatan kedua tank ini dibawah satuan kavaleri Kostrad, yakni pada Yon Kav 8 di Divisi Infrantri 2 Kostrad (Jawa Timur) dan Yon Kav 9 di Divisi Infantri 1 Kostrad (Jawa Barat). Selain Indonesia, negara jiran Malaysia diketahui juga menggunakan Stormer dengan jumlah 45 unit, Oman membeli 4 unit dan tentunya AD Inggris dengan 151 unit.
Spesifikasi Stormer
Negara pembuat : Inggris
Berat : 12.7 tonnes
Panjang : 5.27 m
Lebar : 2.76 m
Tinggi : 2.49 m
Kru : 2 + 12
Mesin : Perkins 6 litre, 6 cylinder diesel 250 hp (186 kW)
Transmisi : David Brown TN15D
Suspensi : Torsion bar
Jarak tempuh : 640 Km
Kecepatan Max : 80 km per jam

PANSER V-150 COMMANDO INDONESIA

Tak banyak panser tempur Indonesia yang punya reputasi memukau dalam waktu operasional yang demikian panjang. Salah satunya tak lain adalah V-150 Commando buatan Cadilage Cage Company, Amerika Serikat.
Panser dengan empat roda ini (4×4) didatangkan ke Tanah Air sekitar tahun 70-an, dan hingga kini menjadi andalan dalam arsenal tempur Batalyon Kavaleri 7/Sersus (Panser Khusus) Kodam Jaya yang bermarkas di Cijantung, Jakarta. V-150 YonKav 7 terdiri dari empat varian, yakni versi intai dengan senapan mesin berat 12,7mm, versi meriam kaliber 90mm, versi twin gun 7,6mm MG Turret AP (Angkut Personel) dan versi komando.
Kabarnya jumlah total V-150 yang dimiliki TNI AD mencapai 200 unit. Dan secara langsung Indonesia menjadi pengguna V-150 terbanyak di dunia setelah Arab Saudi. Negara-negara tetangga ASEAN seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura juga memiliki panser jenis ini.
Secara umum bentuk bodi antar varian diatas relatif sama. Sisi-sisi bodi sengaja dibangun bersudut, fungsinya untuk menahan hempasan energi akibat ledakan saat panser melibas ladang ranjau.
Jenis ban pun mengadopsi teknologi run flat, artinya bila ban kempes, panser tetap bisa melaju sampai jarak 80 kilometer. Tak cuma itu, meski tak dibekali baling-baling, V 150 punya kemampuan untuk mengarungi air. Tenaganya berasal dari putaran roda saat di dalam air. Antara versi V-150 sebenarnya hanya dibedakan pada bentuk kubahnya.
Berbicara soal pengalaman tempur, V 150 tergolong cukup kenyang pengalaman. Kiprah tempur pertamanya dilalui saat operasi Seroja di Timor Timur. Dalam sebuah wawancara dengan kru panser V-150, penulis mendapat kisah menarik bahwa panser ini mendapat julukan “mobil setan” di kalangan gerombolan pemberontak. Pasalnya V 150 yang bertampang garang amat ditakuti sosoknya oleh pasukan Fretilin.
Selain misi tempur di dalam negeri, V 150 YonKav 7 juga pernah dikirim untuk memperkuat misi pasukan perdamaian PBB di Kamboja. V 150 juga menjadi panser yang diandalkan untuk menindak rusuh massa, ini dibuktikan pada saat kerusuhan Mei 1998, V 150 yang mendukung PHH (Pasukan Anti Huru Hara) yang dilengkapi kawat berduri disekeliling bodinya.
V-150 Retrofit TNI-AD
V-150 yang dimiliki TNI-AD tentunya kini telah melalui program retrofit di Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD. Komponen yang diretrofit mencakup penggunaan mesin Diesel V6-155 6 silinder 4 langkah dengan daya 149 BHP/3300 RPM dan torsi 39,2 KGM/1900 RPM memberikan kemampuan dan kecepatan yang sama dengan aslinya serta pemakaian bahan bakar yang lebih hemat. V-150 retrofit menggunakan transmisi otomatis Allison AT-545 4 speed, empat maju satu mundur memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pengemudi.
Sebagai perbandingan, V-150 retrofit punya jarak jelajah hingga 800 Km, sedang versi aslinya hanya 643 Km. Kecepatan maksimum V-150 retrofit mencapai 89 Km/jam, sedang V-150 versi aslinya kecepatan maksimumnya 88,5 Km/jam.
V 150 juga ikut membantu pemulihan keamanan di Aceh, tak sedikit anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang meregang nyawa akibat muntahan perluru dari panser ini. Saat ini V 150 diketahui juga ditempatkan untuk mengamankan komplek pertambangan Freeport di Papua
      
Spesifikasi V-150 Commando
Weight : 9,888 kg.
Length : 5.69 m
Width : 2.26 m
Height : 2.54 m (turret roof), 1.98 m (hull top)
Crew : 3+2
Armor : classified
Primary armament : 1 x 20 mm, 1 x 7.62 mm Machinegun
Secondary armament : 2×6 40 mm Smoke Dischargers
Engine : V-504 V8 diesel turbo charged engine 202 bhp
Power/weight : 18.75 bhp/ton
Operational range : 643 km
Speed : 88 km/h (road), 5 km/h (water)

PANSER FERRET INDONESIA

Dari beragam alutsista (alat utama sistem senjata) lawas milik TNI-AD, khusus di korps kavaleri, nama panser Ferret tentu harus diperhitungkan. Bersama dengan panser Saracen dan Saladin, Ferret didatangkan pada periode tahun 60-an. Bersama panser Saracen dan Saladin pula, Ferret turut menjadi saksi sejarah pergolakan saat revolusi di tahun 1965. Pada dasarnya Ferret dirancang sebagai kendaraan intai, kawal dan pemandu tempur tanpa kemampuan amfibi. Untuk itu Ferret dibuat dengan desain body yang mungil, tujuannya agara ”si Musang” ini dapat bergerak cepat dan lincah.
Dilihat dari body nya yang imut untuk ukuran alat temput, Ferret hanya diawaki oleh dua orang, yakni pengemudi dan komandan yang merangkap sebagai juru tembak. Untuk urusan senjata, tentu Ferret harus tahu diri, panser ini standarnya hanya dibekali senapan mesin kaliber 7,62 mm dalam kubah putar. Tapi beberapa negara pengguna Ferret juga berhasil melalukan pengembangan agar Ferret tampil lebih galak. Contohnya seperti kemampuan Ferret menggotong rudal anti tank Vigilant dan merian tanpa tolak balik. Untuk menunjang kemampuan tempur, Ferret menggunakan tipe ban run flat, tipe ban ini memungkinkan ban tidak langsung gembes bila terkena tembakan.
Setelah mengabdi selama 60 tahun di republik Indonesia, Panser besutan pabrik Alvis, Inggris ini masih digunakan hingga kini oleh Korps Kavaleri di lingkungan Kostrad. Ferret masuk dalam kompi intai kavaleri dan dalam tiap misi tempur, sudah umum bila Ferret-lah yang maju terlebih dahulu untuk memonitor situasi dan kemudian melaporkan hasil pantauan ke komando atas. Indonesia sendiri dikabarkan memiliki 55 unit Ferret tipe Mk1/2. Sejalan dengan perkembangan, Ferret milik TNI-AD sudah di retrofit, teruma dengan penggantian dari mesin bensin ke mesin diesel.
                                                                    
Spesifikasi
Negara pembuat : Inggris
Berat : 3,7 ton
Panjang : 3,7 meter
Lebar : 1,91 meter
Tinggi : 1,88 meter
Awak : 2 orang
Senjata utama : 7,62 mm
Suspensi : 4×4
Jarak tempuh : 306 Km
Kec max : 93 Km/jam
Mesin : Rolls Royce B60 6 silinder (mesin bensin)
 

PANSER SARACEN INDONESIA

Bagi Anda yang pernah menonton film “Penghianatan G 30S/PKI” tentu masih ingat akan sosok panser pengangkut personel Saracen. Panser dengan enam roda ini begitu kental sebagai ikon di film tersebut, dan memang pada faktanya panser Saracen buatan Alvis ini punya peran besar dalam masa revolusi tahun 1965. Saracen dikala itu masuk dalam unit batalyon kavaleri 7 yang berada dibawah komando Kodam V (sekarang Kodam Jayakarta), dimana tugasnya yakni melindungi keamanan Ibu kota.
Dari tugas yang diemban tersebut, maka Saracen aktif berperan dalam beberapa operasi militer menumpas PKI. Salah satunya digunakan saat pengepungan Lanud Halim Perdanakusumah. Tapi harus diakui yang sangat monumental yakni saat Saracen digunakan sebagai kendaraan pengangkut tujuh peti jenazah pahlawan revolusi pada 5 Oktober 1965 menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata. Bisa dibilang ikon Saracen sebagai kendaraan pengangkut jenazah pahlawan revolusi sangat mengena hingga saat ini. Walau banyak yang tak kenal nama sosok panser ini, tapi desain Saracen amat dikenali oleh khalayak di Tanah Air.
Saracen sendiri didatangkan pada era 60-an untuk membangun satuan kavaleri TNI-AD. Saracen dibeli dari Inggris dan mulai diproduksi oleh Alvis mulai tahun 1952. Dari segi usia, Saracen sudah termasuk sepuh, rentang usia panser ini di Indonesia sudah lebih dari 44 tahun. Tapi biar sepuh, unit kavaleri TNI-AD, khususnya di Kostrad masih menjagokan Saracen sampai saat ini. Tentu ada banyak modifikasi agar Saracen tetap bertahan sesuai tuntutan jaman. Diantaranya seperti mengganti dari mesin bensin ke mesin diesel, tiap roda dibekali peredam kejut, kelengkapan sistem pendingin kabin dan pastinya rodanya berkempuan all whell drive. Bahkan saat melihat Saracen di HUT ABRI tahun 1995, penulis melihat panser ini sudah dilengkapi winch untuk menarik kendaraan di medan off road.
TNI-AD diperkirakan memiliki sekitar 60 unit Saracen, satu diantaranya bisa Anda lihat sebagai etalase di museum Lubang Buaya, Jakarta. Sesuai rancangannnya sebagai panser ringan, Saracen hanya dibekali senjata ringan. Satu pada kubah aktif bagian depan dan sebuah lagi di belakang (ring mount). Pilihan senjata mulai dari FN MAG GPMG (General Purpose Machine Gun) atau browning, yang jelas semuanya berkaliber 7,62 mm. Untuk sistem komunikasi, dilengkapi satu unit radio PRC-64 multi frekuensi.
Selain digunakan Kostrad, beberapa unit Saracen juga disebar untuk memperkuat satuan kavaleri di tingkat Kodam. Dengan rentang pengabdian yang demikian panjang, wajar bila Saracen punya banyak tanda jasa untuk operasi militer. Terakhir Saracen digunakan dalam operasi militer penumpasan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) beberapa tahun lalu.
Di negeri asalnya, Inggris. Saracen sampai tahun 80-an masih digunakan dalam operasi keamanan di kawasan Irlandia utara. Polisi Amerika Serikat pun nyatanya sampai saat ini juga masih kesemsem dengan Saracen, buktinya panser ini digunakan tim elit SWAT sebagai kendaraan penyerbu. Saking populernya, Saracen juga sempat ditampilkan dalam film Judge Dredd di tahun 1995. Saracen mempunya banyak varian, tapi utamanya terdiri dari tiga tipe, yakni Armoured Command Vehicle (ACV) yang dilengkapi ekstra radio dan roof mount. Kemudian ada Amoured Command Post (ACP) yang dilengkapi awning kanvas dan generator mini. Dan terakhir, versi Armoured Ambulance
                                                          
Spesifikasi Alvis Saracen
Berat 11 Ton
Panjang 4.8 meter
Lebar 2.54 meter
Tinggi 2.46 meter
Crew 2 + 9
Senjata Utama 2 x machine gun
Mesin Rolls-Royce B80 Mk.6A, 8 silinder petrol 119 kW
Suspensi 6 x 6 wheel
Jangkauan operasi 400 km
Kecepatan 72 km/jam (off-road 32 km/jam)
 

PANSER VAB INDONESIA




Sebagian besar dari kita tentu masih ingat terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1998. Akibat rusuh massal di beberapa kota besar secara sporadis, berbuntut tumbangnya pemerintahan orde baru (orba) pimpinan Soeharto. Rusuh massal yang berlangsung sporadis amat mengerikan, terutama di Ibu Kota Jakarta sebagai titik awal gerakan demokrasi. Hampir di setiap wilayah Jakarta terjadi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran. Aparat TNI (dulu ABRI) dan Polri dituntut kerja kerasnya untuk menanggulangi dampak rusuh yang bernuansa politik ini.
Dari sekian banyak aktor yang terlibat dalam pengamanan Ibu Kota, ranpur (kendaraan tempur) VAB dari Perancis terbilang cukup memikat perhatian. Selain VAB tergolong panser anyar pada waktu itu, desain panser ini juga unik. Pada penanggulangan rusuh di Jakarta, dibawah komando Yon Kav 7 Sersus/Panser Khusus Kodam Jaya, VAB dilibatkan sebagai ranpur PHH (pasukan penanggulan huru hara). Ciri khas panser ini terlihat dari turet terbuka untuk SMB (senapan mesin berat) 12,7 mm yang terletak di sisi kanan panser.
VAB PHH saat rusuh tahun 1998 (foto : irwan.net)
VAB TNI AD dalam sebuah defile
Dalam masa genting, Pangdam Jaya saat itu, Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin kerap berpatroli menggunakan VAB keliling Jakarta. Kehadiran VAB diharapkan dapat membawa efek deteren di masyarakat, dalam kampanye deteren, YonKav 7 juga mengerahkan panser V-150. Dilihat dari desain dan namanya yang unik, sebenarnya apa sih VAB itu? Dalam bahasa Perancis VAB (VĂ©hicule de l’Avant BlindĂ©) atau bisa disebut APC (armoured personnel carrier) yang dirancang oleh Euro Mobilitie Division GIAT Industries of France.
VAB ditawarkan dalam dua sistem chassis, yakni berpenggerak roda 4×4 dan 6×6. Kedua versi sama-sama mengadopsi kemampuan amfibi lewat dua bilah propeler. Kavaleri TNI AD menggunakan versi 4×4 dengan SMB 12,7 mm. Tetapi sebenarnya VAB bisa di setting untuk beragam pilihan senjata, seperti varian anti serangan udara dengan rudal darat ke udara Mistral dan the twin-mounted 20mm cannon. Yang terakhir dikembangkan khusus untuk militer Oman.
VAB Perancis dengan SMB 12,7 mm
SMB 12,7 mm yang khas pada VAB, sayang kurang memberi perlindungan pada juru tembak
Selain bisa berenang, VAB juga mempunyai sistem proteksi bagi serangan Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia) plus night vission bagi pengemudinya. VAB menurut spesifikasinya terdiri dari dua orang kru, yakni pengemudi dan penembak. Dan kapasitas personel yang bisa diangkut VAB yakni 10 orang dengan senjata lengkap.
Indonesia diketahui mulai tertarik pada panser ini sejak kiprahnya dalam mendukung pasukan perdamaian PBB di Bosnia. Bahkan saat itu, almarhum presiden Soeharto sempat menumpang VAB dalam kunjungannya ke Sarajevo, Ibu kota Bosnia Herzegovina pada bulan Maret 1995. VAB saat itu amat identik dengan pasukan penjaga perdamaian dari Perancis, walau tak sedikit VAB yang rusak atau hancur dalam konflik di Bosnia tersebut.
VAB dibekali dua unit propeler untuk "berenang"
Sejak sukses membawa rombongan presiden RI, VAB mulai dilirik untuk memperkuat kavaleri Indonesia. Akhirnya pesanan VAB pun bergulir, menurut Kerry Plowright dalam ADF Research Sheet 2008, disebutkan TNI AD telah memiliki 46 unit VAB 4×4. Dan pesanan VAB bertambah pada tahun 2006, pemerintah Indonesia membeli lagi VAB sejumlah 32 unit dari Renault Truck, Perancis untuk mendukung Kontingen Garuda XXIII-A di Lebanon Selatan. Pada tahun 2003, Renault Track Defence mengambil alih peran marketing VAB dalam perjanjian dengan GIAT. Puluhan kendaraan lapis baja yang dibeli Indonesia tersebut memiliki spesifikasi rangka tahun 1997 hingga 2000, tapi menggunakan komponen dan teknologi tercanggih.
VAB TNI AD dalam misi perdamaian di Lebanon
Panser VAB TNI AD dibuat dalam tiga jenis, yaitu jenis komando, angkut, dan ambulans yang dilengkapi dengan sistem integrated logistic support (ILS). Sukses VAB memang tersohor ke penjuru dunia, di segala medan panser ini hadir, mulai dari perang teluk, invasi ke Afganistan sampai operasi militer TNI di NAD dalam menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

VAB TNI AD di wilayah operasi
Sukses di beragam medan operasi, membuat PT. Pindad tertarik untuk mengadopsi paltform VAB untuk panser made in Indonesia yang populer, yakni Anoa yang berpenggerak roda 6×6. Sejak di produksi tahun 1976, populasi VAB dalam beragam versi telah mencapai 5000 unit yang tersebar di penjuru dunia. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi VAB
Berat Tempur : 13,8 ton
Panjang : 5,98 meter
Lebar : 2,49 meter
Tinggi : 2,06 meter
Kru : 2 + 10
Perlindungan : mampu menahan peluru caliber 7,62 mm
Mesin : Renault MIDR 062045 235 kW (320 hp)
Kapasitas BBM : 310 liter
Jarak tempuh : 1200 km
Kecepatan Max : 90 Km/jam
2,2 meter/dtik di air

Sabtu, 01 Juni 2013

PANSER ANOA INDONESIA


Anoa APC yang akan dikirim ke Lebanon
Kalau ada ranpur TNI yang paling banyak disorot tahun ini, itu tak lain adalah Anoa. Panser dari jenis APS (angkut personel sedang)-3, atau bisa disebut APC (armoured personnel carrier). Alasanya, pertama Anoa adalah panser besutan lokal (PT. Pindad) yang dirancang dengan bodi Monocoque Armoured, desainnya bisa dibilang mencontoh panser TNI AD sebelumnya, yakni VAB buatan Perancis. Bahkan Anoa berpenggerak roda 6×6. Alasan kedua, Anoa adalah panser dengan kualifikasi amfibi pertama yang dibuat di dalam negeri.
Dan, tak kalah penting, Anoa mendapat pengakuan internasional, ini dibuktikan dengan minat dari Oman, Malaysia, Nepal, dan Bangladesh untuk membeli Anoa. Boleh dibilang, Anoa adalah flagship kavaleri Indonesia, apalagi Anoa telah dilbatkan dalam satuan batalion mekanis Kontingen Garuda di Lebanon. Informasi terakhir, 13 unit Anoa telah dikirim ke Lebanon untuk memperkuat Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL.
Anoa juga dibuat versi 4x4 untuk Polri
Presiden SBY saat mencoba Anoa, tampak dibelakang SBY berupa anjungan juru tembak. Hal yang membedakan dengan panser VAB
Selain alasan-alasan diatas, Anoa kerap menarik perhatian warga, khususnya di Jakarta, sebab beberapa unit Anoa digadang sebagai ranpur Paspampres. Tak jarang Anoa terlihat “nongkrong” ibarat hiasan tanpa persenjataan di area kediaman Presiden dan Wakil Presiden.
Dari segi desain, panser ini rasanya memang “menyadur ” desain panser VAB besutan GIAT Perancis. Tapi Anoa dihadirkan dengan penyempurnaan, selain suspensi yang lebih baik, Anoa mempunyai kubah tempat penembak depan yang terpisah. Bandingkan pada VAB, kubah penembak SMB (senapan mesin berat) tepat berada di samping pengemudi, tentu posisi ini kurang ergonomis bagi penembak. Untuk itulah pada Anoa dilakukan penyempurnaan. Alhasil ukuran Anoa lebih panjang sedikit ketimbang VAB.
Tampilan ruang kabin personel di panser Anoa
Masih ada perbedaan lain, bila VAB menggunakan kemudi sebelah kiri (standar Eropa), maka Anoa mengadopsi letak kemudi di kanan (standar Indonesia). Nah, untuk yang lain-lainnya bisa dibilang Anoa dan VAB ibarat pinang dibelah dua. Contohnya Anoa menggunakan tipe mesin yang sama dengan VAB, yakni Renault MIDR 062045 inline 6 cylinder turbo-charged diesel. Tentu untuk urusan dapur pacu masih harus di impor dari Perancis. Begitu pula dengan suspensi yang menggunakan Independent suspension, torsion bar masih di impor. Dengan sistem penggerak enam roda simetris, Anoa mampu bergerak lincah di berbagai medan. Termasuk di kemiringan 31 derajat.
Aksi Anoa dalam mengatasi halang rintang
Anoa dilengkapi dua buah propeler untuk berenang
Pada Agustus 2008, Pindad mendapat order 150 unit Anoa dari Departemen Pertahanan. Hingga produksi ke 30, plat baja Anoa masih impor, selanjutnya plat baja akan dipasok oleh PT. Krakatau Steel. Mengenai performa plat baja, performanya mampu mehanan hantaman peluru kaliber 5,56 dan 7,62 mm. Anoa dilapisi dengan baja khusus yang telah memenuhi standar level III NATO.
Untuk persenjataan, ada dua pilihan yang ditawarkan, yakni pelontar granat AGL 40 atau SMB 12,7 mm. Untuk menghindar dari sergapan lawan, Anoa juga dibekali pelontar granat asap 2 x3 66 mm. Sejak diperkenalkan pertama kali pada Hari ulang Tahun TNI ke-61 di Cilangkap – Jakarta (5/10/2006). Anoa telah dikembangkan dalam beberapa varian, seperti versi ambulance, komando, logistik, armoured recovery, surveillance, dan versi pelontar mortir.
Anoa 6x6 versi kanon 90 mm
Tampilan belakang Anoa versi kanon 90 mm
Bahkan panser amfibi ini lebih hebat lagi berhasil dikembangkan ke versi kanon. Untuk versi kanon, desainnya lumayan sangar dengan mengadopsi kanon tipe Cockerill 90 mm Mk III, serupa dengan yang digunakan pada tank Scorpion 90. Tapi sayang, belum ada pesanan mengalir untuk Anoa versi kanon. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Anoa APC
Pabrik : PT. Pindad
Berat Tempur : 14 ton
Panjang : 6 meter
Lebar : 2,5 meter
Tinggi : 2,9 meter
Kru : 3 + 10 personel
Senjata Utama : SMB 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm
Mesin : Renault MIDR 062045 inline 6 cylinder turbo-charged diesel
Transmisi : Automatic, ZF S6HP502, 6 forward, 1 reverse
Suspensi : Independent suspension, torsion bar
Kapasitas BBM : 200 liter
Jarak Tempuh : 600 Km
Kecepatan Max : 90 Km/jam ; 2,2 meter / detik di air